Rupiah Kembali Menguat Hari Ini, Bertahan di Bawah Rp18.000 per Dolar AS

  • 12 Jun 2026 10:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • rupiah dibuka naik 0,21 persen atau 37 poin. Sehingga nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp17.951 per dolar AS
  • Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah. Menyusul pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat
  • Kenaikan suku bunga BI di luar jadwal dinilai cukup efektif menstabilkan rupiah. BI

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan di pasar spot hari ini. Pada Kamis kemarin rupiah ditutup melemah seebssr 0,25 persen ke posisi Rp17.988 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pukul 09.30 WIB, rupiah dibuka naik 0,21 persen atau 37 poin. Sehingga nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp17.951 per dolar AS.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah. Menyusul pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 12 Juni 2026.

Rupiah hari ini, menurut Lukman, akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah ke level 99,84.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai kenaikan suku bunga BI cukup efektif menstabilkan rupiah. BI pada Selasa, 9 Juni 2026, kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen.

Sehingga sepanjang tahun ini, BI sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps). "Penguatan Rupiah yang kembali berada di bawah 18.000 terutama didorong oleh intervensi BI," ujar Rully.

Tanpa intervensi, nilai tukar rupiah kemungkinan masih bergerak di kisaran Rp18.100–Rp18.200 per dolar AS. Rully menyebut probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan masih cukup besar.

"Terutama jika rupiah tetap bertahan di sekitar level Rp18.000 per dolar AS," ucapnya. Sementara itu, aliran keluar modal asing masih terjadi baik di pasar saham maupun SBN.

Menurut Rully, per 9 Juni, porsi kepemilikan domestik di SBN terus meningkat sementara kepemilikan asing menurun. Sehingga tekanan depresiasi terhadap rupiah masih bertahan.

"Secara keseluruhan, kami memperkirakan total kenaikan suku bunga dalam siklus ini sekitar 125 bps. Kenaikan suku bunga akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan dan pendapatan perusahaan, sehingga membatasi ruang penguatan fundamental bagi IHSG," kata Rully menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....