IHSG Bergerak di Zona Merah pada Penutupan di Level 5886,03

  • 11 Jun 2026 16:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup melemah 16,344 poin atau 0,28 persen ke level 5.886,03 pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi
  • Pelemahan pasar dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya konflik Timur Tengah dan kenaikan inflasi Amerika Serikat yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama
  • Dari dalam negeri, pasar mencermati dampak kenaikan harga Pertamax terhadap daya beli masyarakat, potensi inflasi, serta kemungkinan pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Kamis, 11 Juni 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 5886,03 atau turun 16,344 poin (0,28 persen).

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan hari ini. IHSG dibuka pada level 5899,26 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6010,49.

Mayoritas saham mengalami pelemahan. Tercatat sebanyak 265 saham menguat, sementara 419 saham melemah dan 131 saham stagnan.

Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp22,07 triliun. Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 33,160 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 2,37 juta kali transaksi.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian di pasar global. Sentimen tersebut berasal dari memanasnya kembali konflik di Timur Tengah serta kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS).

Menurut Pilarmas, serangan militer AS terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan. Kondisi tersebut juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global setelah Iran menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Selain itu, inflasi AS secara tahunan tercatat meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,2 persen. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax terhadap daya beli masyarakat. Pelaku pasar mewaspadai potensi peningkatan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

"Kenaikan BBM jenis Pertamax secara tidak langsung akan menekan kelompok kelas menengah. Selain itu, berpotensi terjadi pergeseran konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas,Kamis,11 Juni 2026.

Pilarmas menambahkan pergeseran konsumsi tersebut berpotensi meningkatkan penggunaan BBM bersubsidi. Kondisi itu turut menjadi perhatian pasar karena dapat mempengaruhi tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....