IHSG Dibuka Melemah di Level 5.899, Masih Berpeluang Uji Level ke 6.000

  • 11 Jun 2026 10:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka melemah 0,05 persen ke level 5.899,26 pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026.
  • BNI Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang menguji level psikologis 6.000.
  • Sentimen pasar dipengaruhi ketegangan AS-Iran, inflasi AS, dan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level 5.899,26 atau turun 3,11 poin (0,05 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Meski bergerak di zona merah pada pembukaan, pelaku pasar masih mencermati peluang penguatan lanjutan setelah IHSG mengakhiri perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, dengan kenaikan 2,71 persen ke level 5.902.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman mengatakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan. Menurutnya, indeks berpeluang menguji level psikologis 6.000 dalam perdagangan hari ini.

“IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000,” kata Fanny. Ia memperkirakan level support berada pada rentang 5.750-5.840, sementara resistansi berada di kisaran 6.000-6.050.

Namun demikian, penguatan IHSG masih dibayangi aksi jual investor asing. Pada perdagangan sebelumnya tercatat net sell asing mencapai Rp3,13 triliun dengan saham yang paling banyak dilepas antara lain BBRI, TPIA, BBNI, ANTM, dan BUMI.

Dari eksternal, pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump disebut kembali mengancam langkah militer setelah proses negosiasi dengan Teheran dinilai berjalan terlalu lama.

Selain faktor geopolitik, investor juga memperhatikan perkembangan inflasi Amerika Serikat. Inflasi inti AS pada Mei 2026 tercatat naik 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 0,3 persen.

“Ini berarti inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen,” ujar Fanny. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, terlebih harga minyak dunia juga meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 120,9 pada Mei 2026 dari sebelumnya 123. Meski demikian, ekspektasi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan aktivitas bisnis masih menunjukkan perbaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....