Rupiah Dibuka Melemah Hari Ini, Tertekan Eskalasi Perang di Timur Tengah
- 11 Jun 2026 09:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini
- Berdasarkan data Bloomberg, hari ini rupiah dibuka turun 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS bergerak di kisaran 99,89-100,06
- Risiko geopolitik dan kekhawatiran inflasi tinggi menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar hari ini
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Pada Rabu kemarin, rupiah ditutup masih menguat 0,63 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, hari ini rupiah dibuka turun 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS bergerak di kisaran 99,89-100,06.
Depresiasi rupiah hari ini sesuai prakiraan para analis pasar uang. "Rupiah hari ini kemungkinan akan terdepresiasi di kisaran Rp18.010 per dolar AS," kata Analis dari Valbury Sekuritas, Fikri C.Permana, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tekanan ke rupiah hari ini. Diantaranya meningkatnya risiko geopolitik setelah AS-Iran dan Israel-Iran saling serang.
Selain itu, rilis data inflasi di Amerika Serikat menunjukkan angka inflasi masih di atas 2 persen. Inflasi umum pada bulan Mei 2026 tercatat sebesar 2,9 persen secara tahunan.
Angka inflasi itu di atas target inflasi bank sentral AS, the Fed, sebesar 2 persen. "Sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada Desember mendatang semakin menguat," ucap Fikri.
Di dalam negeri, tambahnya, juga muncul kekhawatiran meningkatnya inflasi, setelah kenaikan Pertamax hari Selasa kemarin. Sementara itu, Bank Indonesia kembali menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Rabu kemarin .
Total penyerapan dalam lelang tersebut sebesar Rp15 triliun, disertai kenaikan yield sekitar 30bps di seluruh tenor. Imbal hasil tenor 6 bulan menjadi 7,2 persen, 9 bulan menjadi 7,4 persen dan 12 bulan menjadi 7,6 persen.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan, kenaikan imbal hasil sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Sekaligus sebagai upaya dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut Tim Mirae, tenor 12 bulan menjadi instrumen yang paling diminati dengan nilai 'awarded' mencapai Rp14,5 triliun. Jumlah itu mencakup 96 persen dari total penyerapan.
Imbal hasil tenor tersebut telah meningkat 266 bps dalam tahun kalender. Sementara kepemilikan asing pada tenor 0–1 tahun naik Rp34 triliun secara bulanan.
"Kondisi itu menunjukkan strategi BI dalam menarik arus masuk modal melalui penawaran yield yang lebih kompetitif mulai menunjukkan hasil," ujar Tim Mirae. Di sisi lain, yield SBN tenor 10 tahun turun ke 7,34 dan tenor 2 tahun naik ke 7,34 persen,
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....