Rupiah Ditutup Naik ke Level Rp17.944 per Dolar AS

  • 10 Jun 2026 18:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,63 persen atau 114 poin menjadi Rp17.944 per dolar AS
  • Rupiah mampu bertahan dari tekanan dolar AS, meskipun kondisi Timur Tengah kembali memanas. Sehingga harga minyak mentah kembali naik
  • Di dalam negeri, rupiah menguat ditopang sentimen positif pasar terhadap kenaikan suku bunga BI pada Selasa kemarin

RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,63 persen atau 114 poin menjadi Rp17.944 per dolar AS.

Rupiah mampu bertahan dari tekanan dolar AS, meskipun kondisi Timur Tengah kembali memanas. Sehingga harga minyak mentah kembali naik hari ini.

“AS melancarkan serangan baru ke Iran pada Selasa, setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Serangan itu dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dan di sejumlah negara Teluk lainnya,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu, 10 Juni 2026

Aksi saling serang itu memupuskan harapan akan kesepakatan damai di Timur Tengah. Selain itu, kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Sementara itu, harga minyak Brent hari ini naik menjadi USD92,29 per barel. Bahkan, harga minyak WTI naik menjadi USD88,97 per barel.

“Kenaikan harga minyak juga memperkuat kekhawatiran akan inflasi tinggi karena naiknya harga bahan bakar. Sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral AS,” ujar Ibrahim.

Pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi AS yang diprakirakan akan naik menjadi 4,2 persen pada Mei 2026. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak April 2023.

Di dalam negeri, rupiah menguat ditopang sentimen positif pasar terhadap kenaikan suku bunga BI pada Selasa kemarin. “Kenaikan suku bunga membantu pemerintah dalam lelang bertenor 10 tahun dengan bunga yang ditawarkan 7,4 persen,” ucap Ibrahim.

Di sisi lain, Danantara menyatakan tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis. Karena kehadiran Danantara untuk mengoptimalkan penerimaan tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....