Analisis IHSG Hari Ini: Berpeluang "Rebound" setelah Turun 245 Poin
- 08 Jun 2026 08:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menguat dalam perdagangan Senin 8 Juni 2026 setelah anjlok 245 poin pada akhir pekan lalu.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menguat pada perdagangan Senin 8 Juni 2026. Sebelumnya IHSG anjlok hingga 4,2 persen atau 245 poin ke level 5.594,77 pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
“IHSG berpotensi tes di level support pada 5.450-5.500,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Jika kuat di support tersebut, lanjut dia, IHSG berpotensi untuk rebound atau berbalik menguat.
Menurut Fanny, IHSG akan bergerak di level support pada rentang 5.450-5.500. Sedangkan di level resistansi IHSG akan bergerak pada rentang 5.680-5.800.
Fanny menambahkan IHSG masih mengalami tekanan jual oleh investor asing. Pada Jumat 5 Juni 2026 terjadi aliran keluar modal asing yang cukup signifikan yaitu sebesar Rp3,72 triliun.
Saham-saham yang paling banyak dijual asing dalam perdagangan akhir kemarin adalah TPIA, BBCA, BMRI, ANTM dan BBRI. Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif.
Tim Phintraco memprakirakan level support IHSG akan bergerak pada rentang 5.400-5.500 dan resistansi pada 5.700-5.800. “Hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di antaranya pelemahan rupiah,” katanya.
Selain itu muncul spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat. Hal lain yang bisa mempengaruhi pergerakan di BEI adalah rumor pergantian Menteri Keuangan dan Gubernur BI.
“Ini ditambah kekhawatiran penurunan rating oleh S&P serta kecemasan penurunan ke Frontier Market oleh MSCI,” ucap Tim Phintraco. Belum lagi sejumlah kebijakan pemerintah yang direspons negatif oleh pasar sehingga menekan IHSG lebih jauh.
Pelaku pasar juga sedang menunggu rilis data ekonomi seperti cadangan devisa pada Mei 2026. Kemudian indeks keyakinan konsumen serta tingkat penjualan ritel per April 2026.
Di kawasan Asia, bursa saham serempak anjlok pada akhir pekan lalu. Begitu pula dengan pasar efek di Amerika Serikat (AS) berkat aksi jual saham-saham teknologi.
"Investor global masih akan mencermati perkembangan konflik AS dan Iran,” kata Tim Phintraco. Terutama yang terkait potensi inflasi serta prospek suku bunga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....