Penurunan Harga Emas Selama Tiga Bulan Terakhir Jadi Peredam Inflasi
- 03 Jun 2026 09:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Emas perhiasan mengalami deflasi terdalam sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi 0,06 persen pada Mei 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi peredam laju inflasi pada Mei 2026. Sehingga tingkat inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan.
Hal tersebut karena kelompok tersebut mengalami deflasi hingga 0,74 persen. Komoditas dari kelompok ini yang mengalami tekanan deflasi terbesar adalah emas perhiasan.
“Emas perhiasan mengalami deflasi terdalam sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi 0,06 persen pada Mei 2026,” kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, Selasa, 2 Juni 2026. Menurut dia, komoditas tersebut mengalami penurunan harga selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026.
Pudji menambahkan penurunan harga emas perhiasan selama tiga bulan terakhir disebabkan merosotnya harga emas di pasar global. “Komoditas emas perhiasan secara bulanan tercatat deflasi sebesar 1,17 persen pada Maret 2026 dan 3,76 persen pada April 2026,” ucapnya.
Meski begitu, level harga emas perhiasan masih dalam kategori tinggi. Sehingga ini tetap menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi secara tahunan.
BPS juga mencatat sepanjang April 2026 terjadi impor emas sebesar 2,50 ton dengan nilai USD377,2 juta. Tiga negara asal impor emas utama adalah Australia, Hong Kong dan Uni Emirat Arab.
Impor emas terbesar berasal dari Australia sebesar 1,3 ton senilai USD199,2 juta. Sedangkan impor dari Hong Kong sebesar 533 kg senilai USD81,7 juta.
Kemudian dari Uni Emirat Arab sebesar 240 kg senilai USD36,4 juta. Harga emas perhiasan di dalam negeri juga dipengaruhi perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....