IHSG Berisiko Terkoreksi karena Masih Kuatnya Aksi Jual oleh Investor Asing

  • 03 Jun 2026 08:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terkoreksi dalam perdagangan Rabu 3 Juni 2026.
  • IHSG akan bergerak pada rentang 6.000-6.100 untuk level support, sedangkan untuk level resistansi bergerak pada rentang 6.200-6.300.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terkoreksi dalam perdagangan Rabu 3 Juni 2026. Demikian disampaikan Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, melalui analisisnya.

"IHSG akan bergerak pada rentang 6.000-6.100 untuk level support,” ujarnya. Sedangkan untuk level resistansi, lanjut dia, IHSG akan bergerak pada rentang 6.200-6.300.

Pada penutupan perdagangan Selasa 2 Juni 2026, IHSG naik 1,11 persen ke level 6.195,42. Namun kenaikan itu masih disertai jual bersih (net sell) oleh investor asing.

Fanny mengatakan aliran keluar modal asing tercatat senilai Rp1,37 triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah TPIA, ASII, MAPI, BUVA dan BMRI.

Menurut dia, perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi sentimen negatif pasar. Namun, kenaikan saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan menciptakan sentimen positif.

Di Amerika Serikat (AS), bursa saham kembali memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa. Indeks S&P 500 naik 0,13 persen, Dow Jones Industrial Average menguat 0,45 persen, dan Nasdaq Composite naik tipis 0,03 persen.

"Kenaikan Wall Street terjadi di tengah pergerakan beragam saham teknologi,” ucap Fanny. Misalnya saham Alphabet yang turun hampir 4 persen setelah perusahaan induk Google tersebut mengumumkan rencana penghimpunan dana USD80 miliar.

Hal ini dilakukan melalui skema penjualan saham untuk memperkuat pengembangan kecerdasan buatan (AI). Kemudian saham Marvell Technology melesat 32 persen setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan perusahaannya berpotensi menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar USD1 triliun.

Di sisi lain, harga minyak kembali naik, dipicu laporan media mengenai Pemerintah Iran yang menghentikan negosiasi dengan AS. Media asal Teheran, Tasnim juga melaporkan Iran berencana menutup sepenuhnya Selat Hormuz.

Perkembangan itu membuat bursa saham di kawasan Asia bergerak beragam. “Pasar mencermati ketidakpastian perkembangan konflik Timur Tengah, yang mengimbangi sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan,” kata Fanny.

Harga minyak Brent bertahan di sekitar USD96 per barel setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel. Hal tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi upaya diplomatik baru untuk mengakhiri konflik AS-Iran.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,3 persen, sedangkan di Korea Selatan indeks Kospi naik 0,15 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong meningkat 2,5 persen, dan CSI 300 Tiongkok naik 1,5 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....