IHSG Diperkirakan Bergerak "Sideways" jelang Rilis Data Ekonomi BPS

  • 02 Jun 2026 07:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan bergerak stagnan setelah ditutup melemah pada level 6.127 akhir pekan lalu.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan bergerak stagnan pada Selasa 2 Juni 2026. Akhir pekan lalu, IHSG turun 0,05 persen ke level 6.127 pada penutupan perdagangan Jumat 29 Mei 2026.

Sebelumnya, IHSG sempat menguat hingga level 6,230 seiring efektifnya rebalancing indeks MSCI per Mei 2026. “Kini IHSG berpotensi bergerak sideways (stagnan) di kisaran 6.000-6300,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa 2 Juni 2026.

Kebijakan ekspor satu pintu dan penempatan devisa hasil ekspor masih menjadi perhatian pasar. Begitu pula sejumlah data ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Tim Phintraco mencermati kebijakan ekspor tiga komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mulai 1 Juni 2026. Tiga komoditas itu adalah batu bara, kelapa sawit dan ferro alloy.

“Ini merupakan periode transisi di mana eksportir wajib melaporkan kegiatan ekspornya melalui PT DSI,” ujar Tim Phintraco. Menurut mereka, investor akan mencermati transparansi pelaksanaan kebijakan ini serta dampaknya terhadap kinerja emiten-emiten yang terkait.

Sementara itu, Menteri Keuangan akan memberikan insentif pajak bagi eksportir yang menempatkan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di dalam negeri. Fasilitas ini meliputi tarif PPh lebih rendah hingga nol persen, sesuai jangka waktu penempatan dana oleh para eksportir.

“Eksportir akan diuntungkan dari pemangkasan biaya pajak tawaran suku bunga kompetitif yang dapat dijadikan agunan kredit,” ucap Tim Phintraco. Sedangkan pihak bank akan memperoleh dana valas murah dan peningkatan likuiditas.

BPS akan merilis sejumlah data ekonomi seperti tingkat inflasi dan neraca perdagangan pada Selasa 2 Juni 2026. Inflasi Mei 2026 diperkirakan naik menjadi 3,1 persen dari 2,42 persen secara tahunan.

Sedangkan inflasi bulanan diperkirakan naik menjadi 0,2 persen dari 0,13 persen. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan diperkirakan turun menjadi USD0,5 miliar pada April 2026.

Sebelumnya pada Maret 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD3,32 miliar. Sementara itu, indeks manufaktur (PMI) diperkirakan turun ke level 49,1 pada Mei 2026 dari sebelumnya di level 49,1.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....