CELIOS Ingatkan Dampak Pelemahan Rupiah pada Kenaikan Harga Pangan

  • 31 Mei 2026 06:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pergerakan nilai dolar AS menjadi faktor penting dalam kajian volatilitas harga pangan karena dapat mempengaruhi harga komoditas di pasar global maupun domestik.
  • Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pembelian barang impor meningkat, sehingga dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.

RRI.CO.ID, Jakarta – Center of Economic and Law Studies (CELIOS) merilis hasil kajiannya terkait isu-isu aktual di dalam negeri. Salah satunya terkait pelemahan nilai tukar rupiah dan dampaknya kepada harga pangan.

“Pergerakan nilai dolar AS menjadi faktor penting dalam kajian volatilitas harga pangan,” kata aanggota Tim Peneliti CELIOS, Isnawati Hidayah dan Media Wahyudi Askar, Sabtu, 30 Mei 2026. Menurut mereka, hal ini pada gilirannya dapat mempengaruhi harga komoditas di pasar global maupun domestic.

Dalam konteks tersebut, ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pembelian barang impor meningkat. Sehingga hal ini dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.

Tim CELIOS mengungkapkan kondisi global dan gejolak ekonomi Indonesia turut menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di sisi lain, beredar sejumlah narasi yang menyatakan seolah-olah pelemahan rupiah tidak berkorelasi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Tim CELIOS, anggapan seperti itu cenderung menyesatkan. “Padahal sejumlah komoditas pangan yang memiliki keterkaitan dengan impor cenderung bergerak searah dengan pelemahan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Artinya, turunnya rupiah terhadap dolar AS membuat barang impor dan input produksi menjadi lebih mahal. “Meskipun sebenarnya fluktuasi harga pangan berbeda-beda tergantung komoditasnya.

Tim CELIOS menyebutkan nilai tukar rupiah sempat berfluktuasi pada pertengahan 2025. Namun, kurs dolar AS terhadap rupiah menunjukkan tren meningkat sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026.

Pada saat bersamaan, harga beberapa komoditas pangan impor mengalami kenaikan yang cukup tajam seperti kedelai dan daging kerbau. “Kenaikan harga kedelai seharusnya mendapat perhatian karena menjadi bahan baku makanan lokal seperti tempe, tahu, dan susu kedelai,” ujarnya.

Tim CELIOS menambahkan tekanan harga pangan akan menambah beban biaya hidup rumah tangga. Ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga di pedesaan.

“Meski masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS secara langsung, harga pangan di pedesaan tetap bergerak,” katanya. Hal ini mengikuti dinamika ekonomi yang terjadi secara nasional, khususnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Hubungan antara nilai tukar dan harga pangan disebut terlihat pada tingkat agregat. Namun setelah berbagai shock bulanan nasional dikendalikan, bukti transmisi langsung nilai tukar menjadi jauh lebih lemah.

Hal tersebut menunjukkan kesejahteraan masyarakat pedesaan tidak hanya dipengaruhi oleh stabilitas kurs. Tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas pasokan pangan, distribusi, stok, dan inflasi domestik.

Kenaikan harga yang dirasakan masyarakat desa terjadi secara tidak langsung melalui kenaikan biaya produksi dan rantai pasok (imported inflation). Tim Peneliti CELIOS menekankan pentingnya pemerintah merespons hal ini mengingat Indonesia masih bergantung pada impor.

Komoditas yang masih bergantung pada impor misalnya serealia (beras dan gandum), gula, minyak goreng, produk susu, daging, dan ikan. Kemudian sayuran, buah-buahan, garam, pupuk, produk farmasi, sabun, deterjen, serta produk berbahan plastik, kertas, tekstil, dan alas kaki.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....