Rupiah Menutup Akhir Pekan di Level Rp17.880, Turun 35 Poin terhadap Dolar AS

  • 29 Mei 2026 19:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.880 per dolar AS
  • Sentimen pasar sebenarnya membaik karena laporan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. Namun sejumlah usulan masih harus mendapat persetujuan Presiden Trump
  • Di dalam negeri, Ibrahim mencermati aliran keluar modal asing yang masih tinggi dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.880 per dolar AS.

Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, sentimen pasar sebenarnya membaik karena laporan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. Namun sejumlah usulan masih harus mendapat persetujuan Presiden Trump.

“Diantaranya soal program nuklir dan isu-isu keamanan regional,” kata Ibrahim, Jumat, 29 Mei 2026. Adapun rencana perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.

Informasi tersebut masih membuat harga minyak berfuktuatif di pasar dunia. Di sisi lain, pelaku pasar melihat tekanan inflasi yang tetap tinggi di AS setelah rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi.

“Inflasinya lebih tinggi dari perkiraan, sehingga the Fed kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga tinggi,” ucap Ibrahim. Data pertumbuhan ekonomi di AS juga melambat dari perkiraan pada kuartal I 2026.

PDB hanya sebesar 1,69 persen, direvisi turun dari perkiraan 2 persen. Selain itu data klaim pengangguran awal meningkat menjadi 215 ribu, melampaui perkiraan 211 ribu.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati aliran keluar modal asing yang masih tinggi dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Para investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS, misalnya ke obligasi karena imbal hasilnya menarik,” ujarnya,

Pasar juga mengkhawatirkan hasil penilaian lembaga pemeringkat global terhadap Indonesia. Diantaranya S&P Global, Moodys, dan Fitch Rating yang akan membebani kepercayaan pasar.

Selain itu, pelemahan rupiah yang terus menerus belakangan ini, menimbulkan tekanan di pasar saham. Disamping hasil penilaian MSCI yang akan diumumkan , ikut mempengaruhi sentimen pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....