Penutupan Perdagangan, Rupiah Makin Loyo ke Level Rp17.744 per Dolar AS

  • 25 Mei 2026 19:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS
  • Mata uang rupiah menjadi salah satu mata uang yang masih berada di zona “merah” dibandingkan mata uang lainnya di kawasan. Sentimen dalam dan luar negeri masih membuat rupiah tertekan hingga hari ini
  • Pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Diantaranya data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026, data perumahan, indeks harga pengeluaran untuk konsumsi pribadi

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS.

Mata uang rupiah menjadi salah satu mata uang yang masih berada di zona “merah” dibandingkan mata uang lainnya di kawasan. Sentimen dalam dan luar negeri masih membuat rupiah tertekan hingga hari ini.

“Dari luar negeri, pelaku pasar menunggu kelanjutan kesepkatan perdamaian antara AS-Iran. Namun kesepakatan itu sepertinya tidak akan ditandatangani Iran, dan upaya perdamaian akan kembali gagal total,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Senin, 25 Mei 2026.

Menurutnya, ada dua hal yang masih mengganjal dalam kesepakatan AS dan Iran. Yaitu masalah pengayaan uranium Iran dan tuntutan Iran agar Barat mengakhiri pembekuan dana milik Iran.

Sementara itu para pejabat bank sentral AS, the Fed, mengisyaratkan kenaikan suku bunga jika inflasi meningkat. Isyarat itu disampaikan Christopher Waller, termasuk Ketua the Fed yang baru, Kevin Warsh.

“Warsh menyatakan tidak naif dengan tantangan inflasi yang dihadapinya.Kemungkinan besar Warsh akan menaikkan suku bunga jika inflasi masih tinggi,” ucap Ibrahim.

Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Diantaranya data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026, data perumahan, indeks harga pengeluaran untuk konsumsi pribadi.

Ibrahim juga mencermati nilai tukar rupiah yang masih melemah di tengah menguatnya mata uang negara di kawasan. Seperti ringgit Malaysia menguat 0,29 persen, baht Thailand menguat 0,71 persen dan peso Filipina menguat 0,52 persen.

Menurut Ibrahim, penyebabnya adalah kondisi di dalam negeri. Kekhawatiran akan defisit anggaran masih menjadi sentimen negatif pasar, meski harga minyak dunia mulai kembali menurun.

“Kemudian pidato presiden soal ekspor komoditas sumber daya alam melalui badan khusus. Langkah ini menuai kecaman lembaga pemeringkat internasional,” ujar Ibrahim.

Ia memprakirakan lembaga pemeringkat seperti S&P Global dan lainnya akan menurunkan peringkat Indonesia. “Kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang pro pasar, juga akan mendorong pelemahan rupiah,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....