Tekanan Eksternal Dominan, Rupiah Bergerak Fluktuatif terhadap Dolar AS
- 25 Mei 2026 11:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp17.703 per dolar AS, tetapi kemudian turun ke level Rp17.722 per dolar AS.
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak fluktuatif di awal perdagangan Senin 25 Mei 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka menguat ke level Rp17.703 per dolar AS.
Namun, rupiah kembali bergerak melemah ke level Rp17.722 per dolar AS atau turun 0,03 persen pada pukul 09.40 WIB. Sedangkan indeks dolar AS terpantau masih berada di level 99.
Pada akhir pekan kemarin, rupiah ditutup turun 0,28 persen ke posisi Rp17.716 per dolar AS. Pasar keuangan masih mencermati prospek perdamaian antara AS-Iran yang dapat mendorong penguatan rupiah.
“Rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS karena harapan perdamaian di Timur Tengah,” kata analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong. Selain itu, lanjut dia, harga minyak mentah dunia kembali turun merespons pernyataan Presiden AS, Donald Trump.
Trump mengklaim perudingan dengan Iran berjalan secara “konstruktif”. Namun, Iran justru menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang, terutama mengenai pengendalian Selat Hormuz.
“Nilai tukar rupiah kemungkinan akan bergerak pada rentang Rp17.600-Rp17.750 per dolar AS," ucap Lukman. Analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menambahkan sepanjang Mei 2026 rupiah sudah melemah sekitar 2,1 persen.
“Rupiah masih melemah akhir pekan kemarin meskipun Bank Indonesia (BI) telah melakukan upaya stabilisasi yang agresif,” ujarnya. Menurut Jessica, ini mencerminkan tekanan eksternal dan permintaan valas yang masih dominan di tengah tingginya indeks dolar AS.
Di sisi lain, yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) mulai sedikit menurun. Untuk tenor 10 tahun tercatat imbal hasilnya turun ke posisi 6,74 persen.
Meskipun demikian, spread antara INDOGB dan obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap tinggi. Untuk tenor 10 tahun tercatat sebesar 218,7 basis poin, sedangkan tenor dua tahun sebesar 260,3 basis poin.
Menurut Jessica, hal tersebut mengindikasikan intervensi BI dan pemerintah mulai membantu menjaga daya tarik aset domestik. “Sehingga ini menstabilkan sentimen pasar keuangan di tengah volatilitas global yang masih tinggi,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....