IHSG Tertekan, OJK Pastikan Prospek Investasi Pasar Modal Indonesia Masih Kuat
- 25 Mei 2026 15:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- OJK menilai tekanan pasar modal dipengaruhi dinamika global dan reformasi internal.
- OJK meminta investor tetap melihat prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.
- Pasar modal didorong menjadi pilar pembiayaan strategis nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tekanan pasar modal dipengaruhi dinamika geopolitik global. Selain itu, tekanan juga dipicu reformasi integritas di sektor pasar modal nasional.
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran level 6.100, OJK meminta pelaku pasar tidak panik. OJK menilai investasi di pasar modal Indonesia masih memiliki prospek jangka panjang yang kuat.
“Kita menyampaikan bahwa investasi di pasar modal, investasi di negara Indonesia adalah investasi jangka panjang. Karena itu kita harus selalu melihat bagaimana fundamental ekonomi kita ke depan,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Menurutnya, investor perlu tetap mencermati indikator makroekonomi nasional dan langkah pemerintah dalam memperkuat struktur pembiayaan. OJK menilai pasar modal memiliki peran penting mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Friderica mengatakan pembiayaan ekonomi ke depan tidak hanya bergantung pada sektor perbankan. Pasar modal juga didorong menjadi salah satu pilar strategis pembiayaan nasional.
“Kita lakukan untuk terus mendukung pembiayaan yang juga selain disokong dari sektor perbankan. Juga tentunya disokong oleh sektor-sektor lain, terutama juga dari pasar modal,” ujarnya.
OJK juga menilai Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang lebih kuat dan berkelanjutan. Karena itu, diperlukan basis pembiayaan yang semakin dalam, likuid, dan beragam.
Menurut Friderica, industri jasa keuangan tidak hanya menjadi tempat penempatan modal masyarakat. Sektor tersebut juga harus mampu mendukung kebutuhan pembiayaan jangka panjang, termasuk proyek pembangunan strategis nasional.
“Kita membutuhkan mesin-mesin pertumbuhan yang lebih solid, mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang baru. Ditunjang dengan basis pembiayaan yang semakin dalam dan beragam,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....