Ekonom Sarankan Masyarakat Hidup Hemat di Tengah Suku Bunga Tinggi

  • 25 Mei 2026 16:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Masyarakat diminta hidup hemat dan menghindari utang konsumtif.
  • ORI dan logam mulia dinilai cocok untuk melawan inflasi.
  • Peluang penurunan BI Rate pada 2026 disebut masih kecil.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, masyarakat diminta menghindari gaya hidup di luar kemampuan.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyarankan masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap utang. Ia menilai situasi suku bunga tinggi dapat membuat beban cicilan semakin berat.

“Pertama harus hidup hemat dan cermat, Jadi spending harus disesuaikan dengan kemampuan. Hindari spending yang memaksakan diri untuk berhutang,” katanya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin, 25 Mei 2026.

Bagi pelaku usaha dan UMKM, Wijayanto menyebut kondisi saat ini menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Kreativitas dan kemampuan mempertahankan pasar dinilai menjadi kunci agar usaha tetap berjalan.

“Untuk dunia usaha, ini saatnya untuk meningkatkan efisiensi. Memang harus bekerja keras, kreatif untuk mempertahankan pasar, tidak ada jalan lain,” ujarnya.

Ia juga menilai peluang penurunan BI Rate pada 2026 masih sangat kecil. Menurutnya, Bank Indonesia kemungkinan masih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Di sisi investasi, Wijayanto menyarankan masyarakat memilih instrumen yang mampu melawan inflasi. Salah satu yang direkomendasikan adalah surat utang negara seperti ORI.

“Bagi masyarakat kebanyakan yang bisa melawan inflasi yang kemungkinan akan cukup tinggi, ya surat-surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah. Jadi ORI itu merupakan satu alternatif yang memadai untuk melawan inflasi,” ucap Wijayanto.

Selain itu, logam mulia juga disebut masih menarik sebagai pilihan investasi jangka panjang. Bahkan, ia melihat sektor properti bisa menjadi peluang investasi ketika harga mulai mengalami penurunan.

Menurutnya, kondisi pasar saat ini dapat dimanfaatkan investor untuk membeli properti di lokasi strategis. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kemampuan finansial dan risiko yang ada.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Ia menilai pekerjaan menjadi aset penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....