Akhir Pekan Rupiah Kembali Anjlok ke Level Rp17.700 per Dolar AS

  • 22 Mei 2026 18:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah kembali melampaui level Rp.17.700 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,28 persen atau 49 poin menjadi Rp17.716 per dolar AS
  • Investor meragukan prospek perdamaian AS-Iran, serta kebijakan Iran mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Sehingga harga minyak dunia berpotensi masih akan tinggi

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melampaui level Rp.17.700 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,28 persen atau 49 poin menjadi Rp17.716 per dolar AS.

"Investor meragukan prospek perdamaian AS-Iran, serta kebijakan Iran mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Sehingga harga minyak dunia berpotensi masih akan tinggi," kata Analis Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi, menyebut faktor yang membuat rupiah masih melemah hingga Jumat, 22 Mei 2026.

Jika harga minyak makin tinggi, tambahnya, akan berdampak pada inflasi dan mempengaruhi sentimen bank sentral global. Bank-bank sentral kemungkinan akan mempertahankan suku bunga atau malah menaikkan suku bunga.

"Bank Sentral AS diprakirakan akan menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin sampai akhir tahun," ucap Ibrahim. Pengangkatan Kevin Warsh sebagai Ketua the Fed yang baru diprakirakan juga belum bisa menurunkan suku bunga di AS.

Dari sisi dalam negeri, lanjut Ibrahim, pidato presiden Prabowo di DPR disoroti dunia internasional. "Lembaga rating internasional S&P Global kemungkinan akan menurunkan peringkat utang Indonesia," ujar Ibrahim.

S&P Global menurut Ibrahim akan mencermati tekanan fiskal Indonesia yang diprakirakan akan melebar hingga 3 persen. Termasuk target pertumbuhan ekonomi tahun 2027 yang dinilai terlalu ambisius di rentang 5,8-6,5 persen.

Sementara itu, langkah pemerintah melakukan intervensi melalui penjualan surat berharga juga belum mampu mendongkrak penguatan rupiah. Arus keluar modal asing dari pasar saham justru semakin deras, sehingga rupiah makin tertekan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....