Pasar "Wait and See" Rupiah Kembali Melemah
- 22 Mei 2026 12:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS sehingga melemah dalam perdagangan hari ini.Mengacu data Bloomberg, hari ini rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS
- Pelaku pasar masih mengambil sikap "wait and see". Utamanya, menunggu data neraca transaksi berjalan triwulan I 2026 yang akan dirilis Bank Indonesia
- Ketidakpastian yang tinggi akibat masih berlanjutnya konflik AS dan Iran menjadi faktor utama terus tertekannya rupiah
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS sehingga melemah dalam perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, hari ini rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS pada pukul 10.30 WIB.
Pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, rupiah turun 0,08 persen atau 13 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS. "Hari ini, rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut Lukman, pelaku pasar masih mengambil sikap "wait and see". Utamanya, menunggu data neraca transaksi berjalan triwulan I 2026 yang akan dirilis Bank Indonesia.
Selain itu, investor juga masih mengantisipasi respon Iran terhadap proposal AS yang terbaru. Ketidakpastian yang tinggi akibat masih berlanjutnya konflik AS dan Iran menjadi faktor utama terus tertekannya rupiah.
Lukman memprakirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.600-Rp17.750 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS hari ini, berada di level 99.
Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa menyebutkan, kinerja rupiah menjadi salah satu yang terburuk di kawasan.
"Meski BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dan melanjutkan berbagai langkah stabilisasi. Tetapi tekanan eksternal masih tinggi seiring terus menguatnya indeks dolar AS," ujar Jessica.
Dolar menguat akibat ekspektasi suku bunga the Fed yang diprakirakan masih akan tinggi dalam waktu lebih lama (higher-for-longer). The Fed kemungkinan masih akan menerapkan kebijakan yang persisten karena ketidakpastian global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....