IHSG Diperkirakan Masih Berisiko Tertekan karena Minimnya Katalis Positif

  • 22 Mei 2026 08:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berisiko tertekan dalam perdagangan hari ini.
  • Di tengah minimnya katalis positif, IHSG kembali mengalami tekanan jual akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi. Secara teknikal IHSG telah menutup gap di 6.092
  • Kebijakan pemerintah yang baru dinilai akan berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berisiko tertekan dalam perdagangan hari ini. Pada Kamis kemarin IHSG anjlok ke level 6.094,91 atau turun 3,54 persen.

"Di tengah minimnya katalis positif, IHSG kembali mengalami tekanan jual akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi. Secara teknikal IHSG telah menutup gap di 6.092," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 22 Mei 2026.

"Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000. Support kuat berikutnya di level 5.882," ujar Tim Phintraco melanjutkan analisisnya.

Menurut Tim Phintraco kondisi eksternal masih kurang kondusif. Konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz sulit diperkirakan kapan akan berakhir.

Situasi itu mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih lama dari perkiraan. "Di sisi lain, Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang direspon negatif oleh investor," ucap Tim Phintraco.

Kebijakan pemerintah yang baru dinilai akan berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek. Meski tujuan berbagai kebijakan baru tersebut kemungkinan untuk meningkatkan pendapatan negara untuk menutup defisit APBN.

"Sementara itu rebalancing oleh penyedia indeks global FTSE dan MSCI juga berpotensi masih akan menjadi faktor negatif. Sehingga akan membayangi pergerakan indeks harga saham di BEI," ujar Tim Phintraco.

Menurut Tim Phintraco, saham perbankan diperkirakan masih akan tertekan menyusul pernyataan Fitch Ratings. Fitch menyebut peringkat jangka panjang bank Himbara sangat dipengaruhi oleh dukungan Pemerintah.

Fitch menyatakan bahwa peringkat bank Himbara berada pada level yang sama dengan peringkat Indonesia di BBB/Negatif. Peringkat yang mencerminkan potensi kurangnya kemampuan Pemerintah dalam memberi dukungan kepada perbankan jika tekanan fiskal meningkat.

Sedangkan S&P Global Ratings menyatakan, rencana Indonesia mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat berpotensi merugikan ekspor. Dampaknya dapat menekan pendapatan negara dan neraca pembayaran.

"Sehingga kami masih mencermati saham tambang BUMN. Serta mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....