Rupiah Kembali Melemah karena Sentimen Negatif Dalam dan Luar Negeri

  • 21 Mei 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,08 persen atau 13 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh konflik AS-Iran
  • Pelaku pasarmencermati kemungkinan dampak kenaikan BI Rate. Di satu sisi, menaikkan suku bunga dapat menahan pelemahan rupiah. Pada saat yang sama juga berisiko

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,08 persen atau 13 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh konflik AS-Iran. Presiden Trump mengatakan perang di Iran mendekati "tahap akhir", tapi Trump juga masih mengancam Iran dengan aksi militer.

"Sikap Trump membatasi optimisme pasar secara luas," ucap Ibrahim, Kamis, 21 Mei 2026. Di sisi lain, Iran makin memantapkan kendalinya atas Selat Hormuz, yang membuat harga minyak masih tinggi.

"Pada hari Rabu, Iran mengumumkan 'Otoritas Selat di Teluk Persia' yang baru. Iran juga menyebut akan ada 'zona maritim terkontrol' di Selat Hormuz," ujar Ibrahim.

Ibrahim juga mencermati risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis Rabu kemarin. Risalah menunjukkan mayoritas pejabat the Fed menilai bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga.

"Karena inflasi terus naik di atas target dua persen. Perang Iran menjadi salah satu pemicu meningkatnya inflasi," kata Ibrahim.

Di dalam negeri, lanjut Ibrahim, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama. Di antaranya minyak sawit dan batubara dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara.

Kehati-hatian juga meningkat menjelang rilis data neraca transaksi berjalan triwulan I 2026 yang akan dirilis Jumat. Pada triwulan IV 2025, neraca transaksi berjalan defisit karena kesenjangan harga minyak yang lebar.

Pelaku pasar, tambah Ibrahim, juga mencermati kemungkinan dampak kenaikan BI Rate. Di satu sisi, menaikkan suku bunga dapat menahan pelemahan rupiah.

"Pada saat yang sama juga berisiko dapat mempermahal dana, menekan kredit. Serta dapat mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga," kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....