Pelemahan Rupiah Berlanjut jelang Pengumuman Suku Bunga BI
- 20 Mei 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, saat pembukaan perdagangan rupiah turun 0,21 persen ke posisi Rp17.743 per dolar dolar AS
- Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah
- Para investor hari ini juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). "Apabila BI sesuai yang diharapkan menaikkan suku bunga, akan mendukung penguatan rupiah
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS dalam perdagangan hari ini, Rabu, 20 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, saat pembukaan perdagangan rupiah turun 0,21 persen ke posisi Rp17.743 per dolar dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa kemarin, rupiah berada di posisi Rp17.706 per dolar AS, melemah 0,22 persen. Pelemahan rupiah hari ini sesuai perkiraan para analis.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Tensi geopolitik yang kembali memanas membuat harga minyak mentah kembali naik," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Rabu, 20 Mei 2026.
Para investor hari ini juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). "Apabila BI sesuai yang diharapkan menaikkan suku bunga, akan mendukung penguatan rupiah," ucapnya.
Lukman memperkirakan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.800 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar berada di posisi 99,37, menguat dibandingkan hari Selasa kemarin.
Sementara itu, Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa menyebut stabilisasi rupiah tetap menjadi fokus utama BI. "Karena tekanan global dan volatilitas pasar yang masih tinggi," ucapnya.
Di sisi lain, ekspektasinya rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada Juli–Ags 2026. Pada periode itu permintaan musiman dolar AS diperkirakan akan mereda.
"Untuk mendukung stabilisasi tersebut, BI memperkuat bauran kebijakan. Antara lain melalui intervensi valas, kenaikan imbal hasil SRBI, pembelian SBN, perluasan LCT, dan pengetatan aturan valas," ujar Jessica.
Meskipun langkah intervensi agresif tersebut, tambahnya, menyebabkan cadangan devisa turun sekitar USD10,3 miliar. Pemerintah juga berupaya membantu memulihkan stabilitas nilai tukar rupiah.
Kementerian Keuangan mulai melakukan intervensi bertahap di pasar obligasi melalui pembelian rutin SBN. "Langkah itu untuk membantu stabilisasi rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan eksternal yang berlanjut," kata Jessica.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah siap mengalokasikan sekitar Rp2 triliun per hari ke pasar obligasi. Menurut Jessica, ini mencerminkan koordinasi fiskal-moneter yang semakin kuat.
Koordinasi dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan dan perekonomian Indonesia. Selain itu, mencegah kenaikan imbal hasil yang berlebihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....