IHSG Masih Berisiko Melemah, Berpotensi Uji Level "Support" pada 6.250-6.300

  • 20 Mei 2026 08:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprakirakan masih akan melemah dalam perdagangan hari ini, Rabu 20 Mei 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diprakirakan masih akan melemah pada perdagangan Rabu 20 Mei 2026. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup turun hingga 3,46 persen ke level 6.370,68.

“IHSG diperkirakan berpotensi uji level support pada 6.250-6.300,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Selain itu, pasar juga tengah menunggu pidato Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Paripurna DPR di hari yang sama.

Kepala Negara akan menyampaikan pidato tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027. Ini pertama kalinya seorang Presiden langsung menyampaikan hal tersebut kepada DPR.

Biasanya, kerangka kebijakan tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu). Kemudian, investor juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), Rabu 20 Mei 2026.

“Menurut konsensus, BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen,” kata Tim Phintraco. Kenaikan BI Rate ini, lanjut tim, bertujuan untuk meredam pelemahan rupiah.

Pelaku pasar tengah mencermati angka pertumbuhan kredit pada April 2026 yang diprakirakan sebesar 9,7 persen secara tahunan. Ini berarti naik dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen.

Sementara itu, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN pada April 2026 mencapai sekitar Rp164,4 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pada Maret 2026 yang sebesar Rp240,1 triliun

Tim Phintraco menyebutkan penurunan defisit di antaranya ditopang keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus Rp28 triliun pada April 2026. “Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun, dan belanja negara juga naik menjadi Rp1.0828 triliun,” katanya.

Di sisi lain, hingga Selasa 19 Mei 2026 tekanan jual masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sehingga, IHSG pun mengalami penurunan yang tajam.

Ini terjadi setelah beredarnya kabar jika pemerintah berencana mengatur ekspor komoditas melalui satu badan khusus bentukan negara. Di antaranya batu bara, CPO, serta mineral logam.

“Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor akan potensi pengendalian harga jual,” ucap Tim Phintraco. Sehingga, lanjut dia, ini dapat berdampak pada penurunan marjin laba perusahaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....