Rupiah Masih Loyo, Ditutup di Level Rp17.706 per Dolar AS

  • 19 Mei 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 38 poin ke posisi Rp17.706 per dolar AS
  • Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 38 poin ke posisi Rp17.706 per dolar AS.

Perkembangan perang AS terhadap Iran, terus memicu sentimen negatif ke pasar. Meski Presiden Trump menyatakan menunda serangan lanjutan terhadap Iran untuk membuka kembali peluang negosiasi.

"Trump mengatakan bahwa ada 'peluang yang sangat baik' bagi AS untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Serta untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 19 Mei 2026.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan telah menyampaikan posisi Teheran melalui Pakistan. Pejabat Pakistan yang meminta anonim mengatakan, sudah menyampaikan sikap Iran ke AS, tapi belum ada perkembangan berarti.

"Secara terpisah, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari. Perpanjangan diberikan negara-negara yang 'rentan energi' agar tidak membeli minyak Rusia," ujar Ibrahim.

Presiden Trump juga dikabarkan akan melantik Kevin Warsh sebagai Ketua Fed pada hari Jumat lusa. Setelah Senat memberikan suara untuk menyetujui penunjukan Warsh untuk masa jabatan empat tahun, menggantikan Jerome Powell.

"Investor tetap berhati-hati karena pasar mengevaluasi bagaimana arah kebijakan Fed di bawah kepemimpinan baru," ucap Ibrahim. Di dalam negeri Ibrahim mencermati potensi dampak pelemahan nilai tukar pada ketahanan pangan.

Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat. Seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya," kata Ibrahim.

Indonesia masih mengimpor 90 persen kebutuhan gandum dan kedelai. Impor bawang bawang putih 95 persen, impor gula sekitar 60 persen serta daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen.

"Melemahnya rupiah akan meningkatkan biaya impor dan ini berisiko menyebabkan kenaikan harga pangan di dalam negeri," ujar Ibrahim. Inilah yang disebut fenomena 'imported inflation' atau inflasi impor.

Yakni, tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar mata uang karena tingginya ketergantungan terhadap barang impor. Dampak kenaikan harga pada setiap komoditas akan berbeda.

"Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa hanya dalam hitungan minggu. Karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku," ucap Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....