Rupiah Tembus Rp17.500, Masyarakat Disarankan Perketat Pengeluaran Efektif
- 13 Mei 2026 19:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah sempat melemah hingga menembus Rp17.500 per dolar AS
- Pelemahan terjadi akibat tekanan eksternal global yang cukup kuat.
- Bank Indonesia dapat melakukan intervensi pasar dan penyesuaian suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.
RRI.CO.ID, Jakarta – Rupiah sempat menembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan ini. Fenomena pelemahan tajam ini terjadi dalam kurun waktu singkat kurang dari satu bulan akibat tekanan eksternal yang kuat.
Perencana Keuangan Independen, Safir Senduk, menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara fundamental sebenarnya masih dalam keadaan yang baik. Ia menyarankan masyarakat untuk menunda pembelian barang elektronik atau produk bermerek luar negeri yang harganya sangat dipengaruhi dolar.
Safir menekankan pentingnya evaluasi pengeluaran rutin dan penggunaan transportasi umum demi menekan beban biaya energi harian yang meningkat. Dana darurat harus segera diperbesar hingga mencapai cadangan tiga sampai enam bulan sebagai langkah antisipasi ketidakpastian ekonomi.
"Elektronik tidak usah ganti dulu, ponsel kalau masih bagus jangan ganti. Tahan dulu hobinya, pembelian barang impor harus segera dihentikan,” kata Safir, dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Rabu, 13 Mei 2026.
Bagi para investor ritel disarankan untuk tetap fokus pada fundamental perusahaan yang bagus saat harga saham sedang terkoreksi murah. Emas dianggap sebagai instrumen yang jauh lebih stabil dan menguntungkan dibandingkan menyimpan aset dalam bentuk tabungan mata uang asing.
" Kalau dia belinya untuk trading banyak orang bilang harganya udah ketinggian. Kalau dia beli emas untuk jangka panjang maka harga berapapun masuk aja ke emas," kata dia.
Masyarakat diminta untuk lebih selektif dalam menyerap informasi dari media sosial yang seringkali memicu kepanikan tanpa dasar ahli. Mengikuti perkembangan berita melalui media resmi menjadi kunci utama agar tetap tenang dalam mengelola keuangan pribadi saat situasi sulit.
Sisi lain, Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menyatakan bahwa volatilitas mata uang domestik sangat bergantung pada ketersediaan suplai serta permintaan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat menjadi pemicu utama depresiasi rupiah tersebut.
Esther juga menyoroti adanya kebutuhan dolar yang meningkat tajam karena utang jatuh tempo sebesar 833 triliun rupiah tahun 2026. Pemerintah perlu menguatkan kebijakan investasi dan mendorong sektor ekspor secara masif guna memperbaiki fundamental nilai tukar jangka panjang.
"Bank Indonesia melepaskan USD lebih banyak. Kemudian Bank Indonesia juga bisa meningkatkan kebunga sehingga tidak akan terjadi capital outflow,” ujarnya.
Bank Indonesia diharapkan melakukan intervensi pasar uang secara agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dari potensi pelemahan lanjutan. Namun otoritas fiskal juga harus bersinergi melakukan optimalisasi pengeluaran negara pada program yang berdampak signifikan bagi masyarakat luas.
Pelemahan rupiah diprediksi akan segera memicu kenaikan harga pangan serta energi akibat ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Biaya produksi yang membengkak dipastikan akan dibebankan kepada konsumen akhir sehingga daya beli masyarakat berisiko mengalami penurunan tajam. (Sarah Maulida Ali)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....