Rupiah Terdepresiasi karena Tekanan Global, Ini Analisis Ekonom
- 13 Mei 2026 17:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelemahan rupiah dipicu tekanan global dan penguatan dolar AS, berdampak pada kenaikan harga pangan serta energi.
- Pakar meminta pemerintah memperkuat ekspor, investasi asing, dan menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan moneter-fiskal.
- Masyarakat disarankan menunda belanja barang impor, memperbesar dana darurat, dan memilih investasi emas jangka panjang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan rupiah terhadap dolar AS kembali memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Tekanan global dan penguatan dolar dinilai menjadi pemicu utama melemahnya mata uang domestik.
Direktur Eksekutif Esther Sri Astuti menilai depresiasi rupiah harus menjadi alarm bagi pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan langkah cepat melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
“Ketika rupiah terdepresiasi, pemerintah harus melakukan intervensi melalui pasar uang. Bank Indonesia juga bisa meningkatkan suku bunga agar tidak terjadi capital outflow," ujar Esther dalam wawancara bersama PRO 3 RRI, Selasa, 13 Mei 2026
Esther mengatakan intervensi Bank Indonesia efektif menahan gejolak dalam jangka pendek. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup memperkuat rupiah secara berkelanjutan.
“Intervensi itu efektif, tetapi hanya solusi jangka pendek. Otoritas moneter juga harus berhati-hati menjaga cadangan devisa,” ujar Esther
Ia menilai pemerintah perlu memperkuat ekspor dan menarik investasi asing lebih besar. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan pasokan dolar di dalam negeri.
Menurut Esther, pelemahan rupiah paling cepat dirasakan melalui kenaikan harga pangan dan energi. Industri berbahan baku impor juga diperkirakan mengalami peningkatan biaya produksi.
“Kalau bahan baku impor naik, biaya produksi juga meningkat. Dampaknya, harga produk akhir akan ikut naik di masyarakat.” katanya
Sementara itu, Perencana Keuangan Independen Safir Senduk meminta masyarakat menahan pengeluaran konsumtif selama dolar menguat. Ia menyarankan masyarakat lebih selektif membeli barang impor dan elektronik baru.
“Elektronik tidak usah diganti dulu kalau masih bagus. Barang impor yang tidak penting sebaiknya ditunda terlebih dahulu," kata Safir
Safir juga menyarankan masyarakat memperbesar dana darurat menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Dana darurat dinilai penting menjaga stabilitas keuangan keluarga saat kondisi bergejolak.
“Dana darurat perlu diperbesar pada situasi seperti sekarang. Minimal masyarakat memiliki cadangan untuk kebutuhan tiga bulan,” ucapnya
Selain itu, Safir lebih menyarankan investasi emas dibanding menyimpan tabungan dolar AS. Menurutnya, emas lebih aman untuk tujuan penyimpanan jangka panjang.
“Emas lebih mantap dibanding tabungan mata uang asing. Kalau untuk jangka panjang, harga berapa pun tetap bisa masuk," kata Safir (Agnes Claudia Ohoira)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....