Sikap BI dan Menteri Keuangan Hadapi Anjloknya Rupiah

  • 12 Mei 2026 21:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap nilai tukar rupiah akhir-akhir ini karena berlanjutnya konflik di Timur Tengah. BI menegaskan akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
  • Di dalam negeri kebutuhan akan dolar AS sedang meningkat karena faktor musiman. Diantaranya untuk pembayaran utang luar negeri, pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji
  • BI melakukan apa yang disebut “smart intervention” . Intervensi di pasar valas di lakukan baik di pasar spot, pasar dalam negeri (DNDF) dan pasar luar negeri (NDF)

RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap nilai tukar rupiah akhir-akhir ini karena berlanjutnya konflik di Timur Tengah. BI menegaskan akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengerahkan instrumen operasi moneter yang ada.

“Intensitas konflik yang makin meningkat mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 12 Mei 2026.

Sementara itu, di dalam negeri kebutuhan akan dolar AS sedang meningkat karena faktor musiman. Diantaranya untuk pembayaran utang luar negeri, pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji.

“Hal tersebut menyebabkan permintaan dolar AS di pasar domestik juga meningkat,” ucap Destry. BI, tegasnya, berkomitmen untuk selalu berada di pasar untuk mengurangi tekanan terhadap mata uang rupiah.

Untuk itu BI melakukan apa yang disebut “smart intervention” . Intervensi di pasar valas di lakukan baik di pasar spot, pasar dalam negeri (DNDF) dan pasar luar negeri (NDF).

“BI juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter. Sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” ujar Destry.

Menurut Destry, kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio ( di pasar saham) terus membaik. Hal itu tercermin dari aliran masuk modal asing sebesar Rp61,6 triliun sepanjang April 2026.

Aliran modal asing itu masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga masih tinggi.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam bentuk valuta asing (valas), berdasarkan data BI, mencapai 10,9 persen. Pertumbuhan itu sejak Januari hingga April 2026.

“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda. Sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” kata Destry.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya BI mampu mengendalikan pelemahan rupiah. “Tugas bank sentral hanya satu kan, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar, saya yakin BI mampu mengendalikan dengan baik,” ujar Menkeu Purbaya di Kementerian Keuangan.

Namun pemerintah, lanjutnya, akan membantu BI dengan masuk ke pasar obligasi agar imbal hasil obligasi tidak naik terlalu tinggi. “Kalau imbal hasil membaik, investor asing akan masuk sehingga dapat membantu penguatan rupiah kembali,” kata Menkeu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....