OJK Optimis Ekonomi Domestik Tetap Tumbuh di tengah Tekanan Global

  • 08 Mei 2026 15:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 tercatat sebesar 122,89.
  • Sementara PMI Manufaktur Indonesia masih berada pada level ekspansif sebesar 50,1.
  • Selain itu, posisi undisbursed loan perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp2.527,46 triliun. Nilai tersebut meningkat 7,35 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai prospek ekonomi domestik masih berada pada zona optimistis. Kondisi tersebut tercermin dari konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur yang tetap terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 tercatat sebesar 122,89. Sementara PMI Manufaktur Indonesia masih berada pada level ekspansif sebesar 50,1.

“Indikator tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur nasional masih terjaga dengan baik. Sehingga dapat mendukung pertumbuhan kredit perbankan ke depan,” ujar Dian dalam keterangan pers OJK pada Jumat, 8 Mei 2026.

Di tengah perkembangan ekonomi global, OJK menilai likuiditas perbankan nasional masih memadai. Kondisi ini dinilai mampu mendukung pembiayaan kepada sektor riil.

Selain itu, posisi undisbursed loan perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp2.527,46 triliun. Nilai tersebut meningkat 7,35 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Namun secara persentase, undisbursed loan terhadap total kredit justru menurun. Angkanya turun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen.

Menurut Dian, kondisi tersebut menunjukkan ruang pembiayaan produktif masih cukup besar. Perbankan juga dinilai masih memiliki kapasitas mendorong pertumbuhan sektor riil nasional.

“Kami optimistis industri perbankan nasional tetap memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika global maupun domestik. Dengan likuiditas yang memadai, diharapkan dapat memperkuat fungsi intermediasi secara sehat, prudent, dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyatakan LPS terus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui program penjaminan dan resolusi bank yang optimall serta efisien.

Menurut Anggito, cakupan rekening nasabah yang dijamin LPS masih berada di atas 90 persen. Kondisi tersebut berlaku untuk bank umum maupun Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) hingga Maret 2026.

Ia menjelaskan porsi simpanan bank di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) masih berada di level 30 persen. Angka tersebut tercatat stabil dan tidak mengalami kenaikan maupun penurunan.

“Suku bunga simpanan pasar menunjukkan tren penurunan secara bertahap. Kondisi ini terjadi lintas kelompok deposan dan kelompok bank,” ujarnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Ia mengatakan LPS bersama anggota KSSK terus mendorong penyesuaian bunga simpanan perbankan. Penyesuaian dilakukan agar tetap selaras dengan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....