Jelang Libur May Day, Pelemahan Rupiah Makin Dalam
- 30 Apr 2026 20:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini ditutup turun 0,12 persen atau 20 poin menjadi Rp17.346 per dolar AS
- Sentimen pasar negatif karena pernyataan Presiden Trump yang akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran
- Di dalam negeri, pasar mencermati harga minyak yang kembali melambung hari ini. Tingginya harga minyak dikhawatirkan menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,12 persen atau 20 poin menjadi Rp17.346 per dolar AS.
Sentimen pasar negatif karena pernyataan Presiden Trump yang akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. "Kekhawatiran itu diperparah dengan laporan pertemuan para eksekutif bisnis minyak di AS dengan Trump di Gedung Putih," kata Analis Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 30 April 2026.
Pertemuan tersebut, kata Ibrahim, membahas bagaimana membatasi dampak konflik AS-Iran terhadap keluarga-keluarga di AS. Karena AS telah mengeluarkan biaya besar untuk perangnya di Iran.
Hal tersebut diungkap Pejabat senior Pentagon, Jules Hurst, dalam laporannya di depan Komite Angkatan Bersenjata AS. Menurut Hurst, pemerintahan telah menghabiskan anggaran sebesar USD25 miliar atau sekitar Rp433 triliun hanya untuk pembelian amunisi.
Sementara itu, Ketua the Fed, Jerome Powell mengucapkan selamat kepada Kevin Warsh. Warsh disebutnya telah melewati tahap pertama pencalonannya sebagai ketua the Fed yang baru.
"Namun Powell menyatakan akan tetap menjabat sebagai gubernur sampai tekanan politik mereda. Ia juga mengisyaratkan bahwa independensi Fed berada dalam risiko," ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, pasar mencermati harga minyak yang kembali melambung hari ini. Harga minyak Brent mencapai USD122 per barel dan minyak WTI harganya USD108 per barel.
"Tingginya harga minyak dikhawatirkan menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal," ujar Ibrahim.
Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Karena setiap kenaikan minyak US$1 per barel berpotensi akan menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp10-13 triliun.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan intervensi secara lengkap, yakni di pasar luar negeri dan di pasar domestik. "BI juga perlu menjaga komunikasi agar pasar yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan menjadi tidak teratur," kata Ibrahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....