Rupiah Dibuka Melemah, Bergerak di Level Rp17.365 per Dolar AS
- 30 Apr 2026 10:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mata uang rupiah makin terpuruk terhadap dolar AS dalam pembukaan perdaganhan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kembali melemah 0,23 persen atau 39 poin menjadi Rp17.365 per dolar AS
- Rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS oleh kehawatiran investor seputar prospek perdamaian di Timur Tengah
- Sementara indeks dolar AS di level 98,96, kenaikan indeks dolar AS didorong oleh hasil pertemuan the Fed yang masih hawkish (ketat)
RRI.CO.ID, Jakarta - Mata uang rupiah makin terpuruk terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kembali melemah 0,23 persen atau 39 poin menjadi Rp17.365 per dolar AS.
Pada Rabu kemarin, rupiah ditutup melemah 0,48 persen atau 83 poin ke Rp17.326 per dolar AS. Para Analis sudah memperkirakan rupiah masih akan melemah hari ini.
"Rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS oleh kekhawatiran investor seputar prospek perdamaian di Timur Tengah," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong Kamis, 30 April 2026. Ia memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.300-Rp17.400 per dolar AS.
Sementara indeks dolar AS di level 98,96. Menurut Lukman, kenaikan indeks dolar AS didorong oleh hasil pertemuan the Fed yang masih hawkish (ketat).
The Fed menyatakan masih mempertahankan suku bunga acuan sekitar 3,5 persen-3,75 persen. "Selain itu harga minyak dunia kembali naik setelah Trump mengatakan akan terus memblokade Hormuz hingga ada kesepakatan nuklir," ucap Lukman.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih kuat. Sehingga mendorong BI menaikkan secara agresif imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Imbal hasil SRBI 12 bulan naik menjadi sekitar 6,22 persen. Sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara ( SBN) 10 tahun melonjak mendekati 6,9 persen.
"Menurut kami, kenaikan imbal hasil SRBI ini lebih mencerminkan operasi moneter jangka pendek. Fokusnya pada stabilisasi rupiah bukan pada perubahan stance kebijakan suku bunga jangka panjang," kata Rully.
BI, lanjut Rully, tampaknya akan sangat berhati hati dalam memberikan sinyal pelonggaran. Karena tekanan rupiah masih tinggi di tengah tren kenaikan harga minyak yang kini mendekati USD120 per barel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....