Tekanan Eksternal Menguat, Rupiah Kembali Melemah terhadap Dolar AS

  • 29 Apr 2026 19:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah semakin tak bertenaga menghadapi dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Dari data Bloomberg terpantau, rupiah turun 0,48 persen atau 83 poin menjadi Rp17.326 per dolar AS
  • Faktor eksternal masih mempengaruhi sentimen pasar keuangan hari ini. Pengumuman Uni Emirat Arab akan keluar dari keanggotaan OPEC semakin membebani pasar
  • Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan the Fed pada Kamis dinihari waktu Indonesia. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah semakin tak bertenaga menghadapi dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Dari data Bloomberg terpantau, rupiah turun 0,48 persen atau 83 poin menjadi Rp17.326 per dolar AS.

Faktor eksternal masih mempengaruhi sentimen pasar keuangan hari ini. Pengumuman Uni Emirat Arab akan keluar dari keanggotaan OPEC semakin membebani pasar.

"Pasar mempertimbangkan dampak keputusan Uni Emirat Arab untuk meninggalkan kelompok produsen minyak OPEC. Keluarnya UEA merupakan pukulan besar bagi kelompok produsen minyak di tengah gangguan yang terus-menerus akibat perang AS-Iran," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 29 April 2026.

Sementara itu, AS menyatakan akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai upaya menekan Iran. Sejauh ini, upaya AS untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan masih menemui jalan buntu.

Di sisi lain, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan the Fed pada Kamis dinihari waktu Indonesia. "Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen," ucap Ibrahim.

Jika hal itu terjadi, maka the Fed mempertahankan suku dalam tiga pertemuannya secara berturut-turut. Pertemuan di bulan April ini, mungkin menjadi yang terakhir bagi Ketua the Fed, Jerome Powell, sebelum digantikan Kevin Warsh.

"Pelaku pasar akan mengambil lebih banyak petunjuk dari konferensi pers The Fed di akhir bulan ini. Diantaranya dampak biaya energi yang lebih tinggi dan apakah ini mengubah pandangan jangka panjang mereka tentang suku bunga," ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan mengalami stagnansi di level 5 persen. Pasar mengkhawatirkan praktik kriminalisasi kebijakan publik yang membuat para pengambil kebijakan cenderung hati-hati.

"Risiko kriminalisasi membuat pejabat publik kehilangan keberanian dan kreativitas dalam mengambil keputusan strategis yang berkaitan dengan bisnis," kata Ibrahim. Jika kondisi itu berlanjut, target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen akan sulit tercapai.

Selain itu, pasar juga mencermati sorotan lembaga pemeringkat utang Fitch Rating terhadap Danantara, diantaranya terkait dengan tata kelola. Fitch menilai ada kecenderungan pelaporan yang terkonsentrasi, karena Danantara melapor langsung kepada presiden.

"Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa Danantara akan dimanfaatkan untuk membiayai program-program pemerintah. Misalnya, ketika ada kesenjangan antara anggaran dan kebutuhan belanja pemerintah, Danantara digunakan untuk menutup sebagian kebutuhan tersebut," ujar Ibrahim.

Fitch melihat kejelasan posisi Danantara sebagai 'sovereign wealth fund' yang mengklaim sepenuhnya komersial. Kalau kenyataannya tidak demikian, tambah Ibrahim ekspektasinya bisa meleset.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....