Pelaku Pasar "Risk Off", Rupiah Berbalik Melemah Lagi terhadap Dolar AS

  • 28 Apr 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah dibuka turun menjadi Rp17.242 per dolar AS dikarenakan pelaku pasar bersikap menghindari risiko aau "risk off".

RRI.CO.ID, Jakarta – Mata uang rupiah masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Bloomberg, rupiah berbalik melemah dalam pembukaan perdagangan hari ini, Selasa 28 April 2026.

Nilai tukar rupiah terpantau turun 0,81 persen atau 31 poin menjadi Rp17.242 per dolar AS. Sementara pada perdagangan sehari sebelumnya, rupiah ditutup naik 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp17.211 per dolar AS.

Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan hari ini rupiah akan melemah terhadap dolar AS. “Ini dipengaruhi berbagai sentimen yang membuat pelaku pasar menghindari risiko atau risk off,” ujarnya.

Menurut Lukman, sikap ini disebabkan ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah. Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia juga terpantau kembali naik.

Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak pada kisaran Rp17.150-17.300 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS akan berada pada level 98,56.

Kondisi global masih menjadi faktor utama yang akan mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakui situasi saat ini tidak mudah dan dunia sedang tidak baik-baik saja.

“Kita tidak hanya menghadapi perlambatan, tetapi juga ketidakpastian yang tinggi dan terus berlanjut,” ujarnya, Menurut dia, sumber ketidakpastian berasal dari kebijakan tarif yang diterapkan AS dan situasi geopolitik yang memburuk.

“Dampak dari konflik geopolitik khususnya di Timur Tengah perlu kita cermati dan waspadai bersama," ucap Perry. Konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, sementara di sisi lain suku bunga di AS masih tinggi.

BI merespons kondisi tersebut dengan mengarahkan kebijakan untuk memperkuat permintaan domestik. Ini dilakukan melalui sinergi kebijakan, likuiditas yang tetap longgar, serta akselerasi digitalisasi.

Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. BI juga terus melakukan intervensi pasar dalam dan luar negeri untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....