IHSG Dibuka Naik ke Level 7.158, Berpeluang "Rebound" Terbatas di tengah Tekanan Pasar

  • 27 Apr 2026 10:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka menguat ke level 7.158 setelah sebelumnya anjlok pada level 7.129 yang menandakan peluang "technical rebound" terbatas.
  • Tekanan global dan arus keluar dana asing membuat IHSG bergerak volatil dalam tren turun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik pada perdagangan Senin 27 April 2026. Pada awal sesi perdagangan tersebut, IHSG berada pada level 7.158,50.

Ini terjadi setelah IHSG sebelumnya ditutup turun pada Jumat, 24 April 2026. Saat itu, indeks berada pada posisi 7.129,49 setelah terkoreksi cukup dalam.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, mengatakan penurunan tajam tersebut dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Tekanan eksternal berasal dari tingginya suku bunga global yang mendorong arus dana asing keluar dari pasar negara-negara berkembang.

“Akumulasi net sell asing sepanjang 2026 telah mencapai sekitar Rp40 triliun,” kata Founder Republik Investor itu. Menurut Hendra, kondisi tersebut turut menekan pergerakan IHSG dalam beberapa waktu terakhir.

Pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.200 hingga Rp17.300 per dolar AS juga memperbesar kekhawatiran investor. Dampaknya terasa pada sektor perbankan, energi, dan industri yang sensitif terhadap impor.

Dari dalam negeri, tekanan pasar diperparah oleh aksi panic selling dan forced sell. Ini tercermin dari dominasi saham yang turun serta tekanan di hampir seluruh sektor.

Memasuki pekan ini, IHSG dinilai berada pada fase krusial dengan menguji area support kuat pada kisaran 7.100-7.125. Jika level tersebut tidak bertahan, indeks berpotensi turun ke area 6.950 hingga 7.000.

“Namun secara teknikal, peluang rebound tetap terbuka setelah penurunan tajam dalam waktu singkat,” ujar Hendra. Menurut dia, penguatan yang terjadi diperkirakan masih bersifat terbatas atau technical rebound.

IHSG diproyeksi bergerak pada rentang resistance awal 7.150 hingga 7.200. Pergerakan pasar juga masih berada dalam fase volatile downtrend dengan peluang swing jangka pendek.

“Dalam kondisi tersebut, investor disarankan lebih defensif dan selektif,” kata Hendra. Menurut dia, investor jangka pendek dapat memanfaatkan momentum oversold untuk trading cepat dengan disiplin cut loss.

Sementara itu, investor jangka menengah hingga panjang dapat mulai melakukan akumulasi bertahap. Namun, strategi tersebut sebaiknya dilakukan secara hati-hati dengan menjaga porsi kas tetap tinggi.

Ke depan, investor perlu mencermati pergerakan rupiah, arah suku bunga global, serta harga komoditas. Aliran dana asing juga menjadi indikator penting untuk melihat arah pasar selanjutnya.

“Di sisi lain, stabilitas pasar domestik juga bergantung pada kebijakan otoritas,” kata Hendra. Menurut dia, upaya menjaga likuiditas dan stabilitas rupiah dinilai penting untuk meredam tekanan pasar.

Secara keseluruhan, IHSG masih bergerak dalam tekanan dengan volatilitas tinggi. Namun peluang tetap terbuka bagi investor yang cermat membaca momentum pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....