Rupiah Naik pada Pembukaan Perdagangan Awal Pekan Jadi Rp17.223 per Dolar AS
- 27 Apr 2026 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada pembukaan perdagangan awal pekan ini pada posisi Rp17.223 per dolar AS.
- Sejumlah faktor eksternal akan dominan mempengaruhi pergerakan nilai tukar seperti konflik AS-Iran.
- Di dalam negeri, rumor kemampuan fiskal domestik yang terbatas juga membayangi sentimen pasar.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin 27 April 2026. Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,03 persen atau 6 poin menjadi Rp17.223 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada akhir pekan lalu, rupiah ditutup naik 0,33 persen atau 57 poin menjadi Rp17.228 per dolar AS. Analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana. memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan mengalami tekanan.
“Kemungkinan rupiah akan terdepresiasi tipis ke Rp17.290 per dolar AS,” ujarnya, Senin, 27 April 2026. Sementara itu, indeks dolar AS pada saat yang sama akan berada pada level 98.
Sejumlah faktor eksternal yang akan dominan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah antara lain konflik AS-Iran. “Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menghentikan perjanjian damai dengan Iran," ucap Fikri.
Di dalam negeri, rumor kemampuan fiskal domestik yang terbatas juga membayangi sentimen pasar. Penerbitan Samurai Bond oleh pemerintah akhir pekan lalu juga ikut mempengaruhi posisi rupiah terhadap dolar AS.
Analis pasar uang dari Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mencermati kebijakan fiskal pemerintah yang lebih hati-hati dan disiplin. “Pemerintah menekankan pendekatan survival mode untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah meningkatnya tantangan global,” katanya.
Menurut Jessica, kebijakan itu mencerminkan fokus yang lebih kuat pada optimalisasi penerimaan dan efisiensi. Selain itu untuk mengatasi defisit dan mengindikasikan ruang fiskal yang lebih terbatas dalam mendorong pertumbuhan ke depan.
Jessica juga mencermati keputusan Departemen Kehakiman AS yang menghentikan investigasi terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Hal ini menghilangkan tekanan politik utama dan membuka jalan bagi Kevin Warsh untuk menjadi Ketua The Fed berikutnya.
"Perkembangan ini menambah lapisan ketidakpastian kebijakan,” ujarnya. Ini karena potensi perubahan dalam fungsi reaksi The Fed dapat mendorong penyesuaian ekspektasi suku bunga term atau berjangka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....