Akhir Pekan Rupiah Berbalik Menguat di tengah Kekhawatiran Pasar

  • 24 Apr 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukan, rupiah ditutup naik 0,33 persen atau 57 poin menjadi Rp17.228 per dolar AS
  • “Rupiah berhasil menguat di tengah kekhawatiran pasar akan berlanjutnya konflik AS-Iran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi
  • Di dalam negeri, juga ada kekhawatiran pasar akan inflasi tinggi dan kemampuan fiskal Indonesia menghadapi krisis harga energi

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukan, rupiah ditutup naik 0,33 persen atau 57 poin menjadi Rp17.228 per dolar AS.

“Rupiah berhasil menguat di tengah kekhawatiran pasar akan berlanjutnya konflik AS-Iran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 24 April 2026. Presiden Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran di perpanjang dan mengumumkan gencatan senjata Israel-Lebanon.

Sementara Iran tetap menolak melanjutkan negosiasi dengan AS dan menuntut AS menghentikan blokadenya di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menindaktegas kapal-kapal yang berusaha menerobos blokade Iran di Selat tersebut.

Situasi tersebut membuat ketidakpastikan global masih tinggi dan memberikan sentimen negatif di pasar keuangan global. Di dalam negeri, juga ada kekhawatiran pasar akan inflasi tinggi dan kemampuan fiskal Indonesia menghadapi krisis harga energi.

“Namun, Pemerintah mengatakan bahwa APBN dalam kondisi kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat perang di Timur Tengah. Termasuk untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia yang berlanjut,” ujar Ibrahim.

Pemerintah sudah memperhitungkan harga minyak hingga USD100 per barel. Di level harga itu, APBN masih dapat menahan kenaikan harga BBM subsidi.

“Sehingga pemerintah tidak perlu menguras cadangan APBN dalam Saldo Anggaran Lebih (SAL),” ucap Ibrahim. SAL pemerintah saat ini jumlahny sebesar Rp423 triliiun dan belum terpakai sama sekali.

Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan akan memaksimalkan seluruh bauran kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara simultan dipasar offshore NDF (pasar luar negeri), pasar spot, serta pasar domestik DNDF.

“BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat stabilitas rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam bertransaksi,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....