Intervensi BI Tahan Pelemahan Rupiah ke Rp17.286 per Dolar AS

  • 23 Apr 2026 18:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,61 persen atau 105 poin menjadi Rp17.286 per dolar AS
  • Bank Indonesia terus melakukan intervensi, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Sehingga pelemahan rupiah yang sebelumnya mencapai lebih dari Rp17.300 bisa turun ke Rp17.286
  • Harga minyak Brent hari ini berada di level USD103 per barel dan minyak TWI di kisaran USD98 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu oleh kondisi selat Hormuz dan ketegangan AS-Iran yang kembali memanas

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Meski posisi rupiah sudah di bawah Rp17.300.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,61 persen atau 105 poin menjadi Rp17.286 per dolar AS. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah berkurang karena intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia.

“Bank Indonesia terus melakukan intervensi, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Sehingga pelemahan rupiah yang sebelumnya mencapai lebih dari Rp17.300 bisa turun ke Rp17.286,” kata Ibrahim, Kamis, 23 April 2026.

Hal itu, kata Ibrahim, intervensi yang dilakukan BI cukup mumpuni untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut. Ibrahim memperkirakan, hari Jumat besok rupiah masih akan melemah di rentang Rp17.280-Rp17.340 per dolar AS.

Ibrahim juga mencermati tekanan yang akan dialami APBN karena pembayaran utang jatuh tempo yang cukup besar. “Pemerintah berupaya mencari pendanaan dengan menerbitkan surat utang negara,” ucap Ibrahim.

Tekanan semakin kuat, karena kebutuhan dolar yang meningkat untuk mengimpor BBM. Apalagi saat ini harga minyak kembali merangkak naik, kebutuhan dolar yang meningkat juga menyebabkan rupiah melemah.

“Harga minyak Brent hari ini berada di level USD103 per barel dan minyak TWI di kisaran USD98 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu oleh kondisi selat Hormuz dan ketegangan AS-Iran yang kembali memanas,” ujar Ibrahim.

Pelaku pasar juga sedang mencermati sosok Kevin Warsh, calon ketua the Fed pilihan Presiden Trump. Warsh hampir bisa dipastikan akan menggantikan Jerome Powell yang purna tugas bulan Mei mendatang.

Pasar, lanjut Ibrahim, menunggu bagaimana sikap Warsh terhadap kebijakan suku bunga. Apakah Warsh akan mengikuti keinginan Presiden Trump menurunkan suku bunga, atau Warsh memutuskan berdasarkan pertimbangannya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....