Rupiah Makin Tertekan ke Level Rp.17.300 per Dolar AS, Terlemah di Kawasan

  • 23 Apr 2026 10:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah turun cukup dalam terhadap dolar AS saat pembukaan perdagangan hari ini, yaitu menjadi Rp17.307 per dolar AS.
  • Pelemahan rupiah dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah dan aliran keluar modal asing dari pasar saham yang cukup besar.

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah turun cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis, 23 April 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka melemah menjadi Rp17.307 per dolar AS, turun 0,73 persen atau 126 poin dari sebelumnya.

Nilai tukar rupiah juga melemah 0,22 persen menjadi Rp17.180 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu 22 April 2026. "Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga 4,75 persen tidak berpengaruh banyak untuk mendorong penguatan rupiah," kata analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C.Permana.

Fikri memperkirakan rupiah masih akan terdepresiasi karena pengaruh perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Aliran keluar modal asing dari pasar saham yang cukup besar juga menjadi pemicu pelemahan rupiah.

Menurut data BNI Sekuritas, jual bersih (net sell) saham oleh investor asing Rabu, 22 April 2026, mencapai Rp1,04 triliun. Pelemahan hari ini, Kamis 23 April 2026, menjadikan nilai tukar rupiah kembali terendah sejak awal tahun.

Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menyebutkan adanya sentimen risk-off pelaku pasar yang membuat rupiah makin tertekan. Yaitu berupaa eskalasi geopolitik dan arah kebijakan rezim di Washington.

Di dalam negeri, pasar mulai mengantisipasi risiko kenaikan inflasi sebagai imbas melonjaknya harga energi global. “BI jelas memprioritaskan stabilitas, sehingga ruang penurunan suku bunga acuan dalam jangka pendek sangat terbatas," kata Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Meski begitu, Rully menilai fundamental ekonomi dan perbankan domestik masih relatif stabil. “BI mempertahankan suku bunga kebijakan dengan nada yang lebih hawkish (ketat),” ucapnya.

Ini mencerminkan fokus kuat BI pada stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang persisten. Ketidakpastian terkait tensi geopolitik AS–Iran terus membebani sentimen pasar.

Menurut Rully, rupiah selama sebulan ini sudah melemah sekitar 0,8 persen. “Ini membuatnya menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan,” ujarnya.

Kebijakan BI untuk intervensi di pasar domestik maupun luar negeri belum membuat rupiah menguat secara signifikan. Sementara itu, tekanan dari sisi penawaran dan melambungnya harga energi semakin mendorong tingginya risiko inflasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....