Pasar "Wait and See" Pengumuman Suku Bunga BI, Rupiah Berbalik Melemah
- 22 Apr 2026 10:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini ke posisi Rp17.161 per dolar AS.
- Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi, sehingga pergerakannya hari ini akan datar saja.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 22 April 2026. Padahal, sehari sebelumnya rupiah berhasil menguat 0,15 persen menjadi Rp17.142 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Menurut Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp17.161 per dolar AS, turun 0,11 persen atau 18 poin. “Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi, sehingga pergerakannya akan datar saja," kata Analis Pasar Uang, Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Indeks dolar AS juga terpantau melemah ke level 98, 35 dibandingkan pada Selasa 21 April 2026. Menurut Lukman, pelaku pasar masih bersikap wait and see menantikan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pada pengumuman tersebut, BI akan menyampaikan kebijakan suku bunga pada bulan ini. Bank sentral juga akan menyampaikan asesmen terhadap kondisi perekonomian dan keuangan terkini.
Menurut Lukman, melihat perkembangan eksternal, kondisinya masih sulit diprediksi meskipun AS menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata. Ini karena Teheran sudah memutuskan menolak untuk kembali ke meja perundingan dengan Washington.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.100-Rp17.200 per dolar AS. Sementara itu, analis pasar uang Mirae Asset Sekuritas memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunganya pada bulan ini.
“Kami memperkirakan suku bunga akan tetap 4,75 persen,” kata Ekonomi Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Menurut dia, ini mencerminkan fokus BI yang berkelanjutan pada stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Sikap BI tersebut didukung upaya menarik aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan likuiditas domestik masih longgar dan terjadi perbaikan aliran dana.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di level 6,6 persen. “Meskipun risiko eksternal, terutama dari inflasi berbasis energi, masih membatasi ruang pelonggaran,” ucap Rully.
Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun stabil di level 5,89 persen. Sedangkan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) berada di level 4,31 persen.
Credit Default Swap (CDS) Indonesia juga turun menjadi 81. “Ini mencerminkan perbaikan persepsi risiko di tengah tekanan eksternal,” kata Rully menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....