Penguatan Rupiah Berlanjut Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran

  • 21 Apr 2026 20:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,15 persen atau 25 poin menjadi Rp17.142 per dolar AS
  • Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut, dari sisi ekternal ada dua hal yang menjadi perhatian pasar. Prospek kelanjutan perundingan AS-Iran di Pakistan setelah berakhirnya gencatan senjata dan sidang Kevin Warsh di Kongres AS
  • Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar menilai perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan konflik geopolitik. Pemerintah berupaya meningkat investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target

RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,15 persen atau 25 poin menjadi Rp17.142 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut, dari sisi ekternal ada dua hal yang menjadi perhatian pasar. Prospek kelanjutan perundingan AS-Iran di Pakistan dan sidang Kevin Warsh di hadapan Komite Perbankan Kongres Amerika Serikat.

“Gencatan senjata AS dan Iran akan berakhir hari Rabu, 22 April 2026,” kata Ibrahim, Selasa, 21 April 2026. Namun belum ada kepastian apakah akan ada perundingan lanjutan.

Pihak Iran memastikan tidak akan melanjutkan negosiasi. Sedangkan sikap AS terus berubah-ubah terkait penguriman delegasinya ke Pakistan.

Terakhir Presiden Trump bahkan kembali mengancam akan melakukan serangan keras terhadap Iran. “Sebelumnya, situasi pasar sudah tegang setelah militer AS menembaki kapal berbendera Iran,” ucap Ibrahim.

Di sisi lain, pelaku pasar kini sedang memantau sidang Kevin Warsh di Komite Perbankan Kongres AS. Sidang berlangsung pukul 10.00 waktu AS atau sekitar pukul 21.00 WIB.

Warsh adalah sosok pilihan Presiden Trump yang akan menggantikan posisi Jerome Powell sebagai Ketua the Fed. Powell akan menyelesaikan masa jabatannya pada bulan Mei mendatang.

“Pelaku pasar menunggu pernyataan Warsh yang diperkirakan tidak terlalu ‘lunak’ seperti perkiraan pasar. Meskipun Warsh sebelumnya mendukung pernyataan Trump terkait penurunan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar menilai perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan konflik geopolitik. “Pemerintah berupaya meningkat investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target,” kata Ibrahim.

Ketahanan ekonomi Indonesia, tambah Ibrahim, tidak lepas dari perang APBN sebagai ‘peredam syok’ untuk melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah menegaskan akan menjaga disiplin fiskal dan memastikan defisit anggaran tidak tembuh ke angka 3 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....