Rupiah Dibuka Menguat di tengah Konflik Timur Tengah yang Kembali Panas
- 21 Apr 2026 09:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.136 per dolar AS, naik 0,19 persen
- Meski dibuka menguat, Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana memprakirakan rupiah masih akan terdepresiasi hari ini. Kemungkinan rupiah terdepresiasi ke Rp17.190 per dolar AS
- Serangan AS ke kapal Iran menimbulkan kekhawatiran perdamaian akan lebih sulit tercapai.Di sisi lain, pasar berharap sikap dovish (longgar) the Fed
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.136 per dolar AS, naik 0,19 persen atau 32 poin.
Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, rupiah menguat 0,12 persen atau 21 poin menjadi Rp17.168 per dolar AS. Meski dibuka menguat, Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana memprakirakan rupiah masih akan terdepresiasi hari ini.
"Kemungkinan rupiah terdepresiasi hari ini ke Rp17.190 per dolar AS," kata Fikri, Selasa, 21 April 2026. Menurut Fikri, kembali naiknya tensi di Timur Tengah akan mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini.
Konflik AS-Iran kembali memanas setelah AS menyerang kapal dagang Iran. Serangan AS menimbulkan kekhawatiran perdamaian akan lebih sulit tercapai.
Di sisi lain, pasar berharap sikap dovish (longgar) the Fed. Harapan itu menguat seiring pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Gubernur the Fed yang baru.
Sementara itu, di dalam negeri juga muncul kekhawatiran inflasi setelah naiknya BBM dan LPG non-subsidi. "Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) hari ini," ucap Fikri.
Ekonom dari Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai rupiah belum menunjukkan pemulihan yang berarti. "Pelemahan rupiah sejalan dengan meningkatnya premi risiko terhadap aset domestik,"ujarnya.
Dalam konteks tersebut, lanjut Rully, Bank Indonesia (BI) praktis kehilangan ruang pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat. 'Karena BI harus hati-hati menghadapi potensi kenaikan inflasi beberapa bulan ke depan, termasuk lewat kanal harga energi," ujar Rully.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....