IMF Beri Sinyal Kemungkinan Resesi, Rupiah Malah Lanjutkan Penguatan

  • 20 Apr 2026 20:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,12 persen atau 21 poin menjadi Rp17.168 per dolar AS
  • IMF melihat risiko resesi dan mewanti-wanti pemerintah Indonesia agar tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah
  • IMF juga mengingatkan Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali
  • Kebijakan menaikan harga BBM non-subsidi ikut mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,12 persen atau 21 poin menjadi Rp17.168 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah antara lain dipengaruhi sentimen pasar terhadap pernyataan IMF pada Indonesia. “IMF mewanti-wanti pemerintah agar tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah,” kata Ibrahim, Senin, 20 April 2026.

IMF menyampaikan peringatan itu karena melihat risiko resesi jika perang AS-Iran berlanjut dan menekan harga minyak. IMF sendiri tidak memberikan alternatif solusi menghadapi kemungkinan resesi tersebut.

“Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah, meningkatkan prospek krisis energi. Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus dapat mendukung perekonomian sekaligus melindungi sistem keuangan,” ucap Ibrahim.

Karenanya, IMF juga mengingatkan Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali. Bank Indonesia akan mengumumkan kebijakan suku bunganya untuk bulan April, pada Rabu, 22 April 2026.

Ibrahim juga mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi ikut mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Jadi kebijakan ini memang diarahkan untuk masyarakat kelas menengah atas,” ucap Ibrahim.

Kebijakan menaikkan harga BBM non-subsidi, tambahnya, membantu meringankan beban pemerintah untuk BBM subsidi. Mengingat sebagian besar kebutuhan BBM masih impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Ibrahim, produksi minyak dalam negeri hanya 600 ribu barel per hari. Sedangkan kebutuhannya sebesar 2,1 juta barel per hari, sehingga impornya mencapai 1,5 juta barel per hari.

Sementara itu, harga minyak dunia kembali naik hingga 7 persen hari ini karena ketegangan AS-Iran yang kembali meningkat. Kekhawatiran akan inflasi tinggi kembali mencuat, yang membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS kembali suram.

“Pasar bahkan memperkirakan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Dipicu oleh tingginya harga energi yang memicu inflasi dan ketidakstabilian situasi di Timur Tengah,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....