Akhir Pekan, Rupiah Makin Loyo ke Rp17.188 per Dolar AS
- 17 Apr 2026 20:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, rupiah makin melemah, turun 0,29 persen atau 50 poin menjadi Rp17.188 per dolar AS dalam penutupan akhir pekan
- Rupiah tertekan oleh dolar AS yang 'rebound'. Dolar menguat setelah rilis data pekerjaan di Amerika Serikat yang menguat dari perkiraan
- Pelemahan rupiah juga didorong oleh sentimen risk-on pelaku pasar karena ekspektasi pasar terhadap gencatan senjata antara Israel dan Lebanon
RRI.CO.ID, Jakarta - Harapan nilai tukar rupiah akan menguat terhadap dolar AS di akhir pekan ini, tidak terwujud. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah malah makin melemah, turun 0,29 persen atau 50 poin menjadi Rp17.188 per dolar AS.
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah tertekan oleh dolar AS yang 'rebound'. "Dolar menguat setelah rilis data pekerjaan di Amerika Serikat yang menguat dari perkiraan," ujarnya, Jumat, 17 April 2026.
Namun Lukman menyebut pelemahan rupiah akan terbatas karena sentimen risk-on pelaku pasar. Sentimen itu didorong ekspektasi pasar terhadap gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Sementara itu, Analis Pasar Uang lainnya, Ibrahim Assuaibi mencermati rilis data pekerjaan di AS. “Klaim data pengangguran awal di AS turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir pada 11 April 2026,” katanya.
“Sementara jumlahnya di bawah perkiraan sebanyak 215 ribu. Bahkan di bawah angka pekan sebelumnya sebanyak 218 ribu," ujarnya.
Meski demikian, lanjut Ibrahim, data ketenagakerjaan dan JOLTS baru-baru ini, menunjukkan periode perekrutan dan PHK yang rendah. JOLTS atau Job Openings and Labour Turnover, mengukur kondisi pasar tenaga kerja melalui lowongan pekerjaan, perekrutan dan PHK.
Ibrahim juga menyoroti sikap pejabat the Fed dalam jalur kebijakan bank sentral saat ini. Presiden the Fed New York, John Williams menyebut konflik di Iran memberikan telah memberikan tekanan pada harga.
Sehingga the Fed mengantisipasi peningkatan inflasi utama. Williams juga menegaskan bahwa sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati tekanan terhadap perekonomian Indonesia jelang akhir triwulan I 2026. Tekanan berasal dari dampak perang AS-Iran berupa kenaikan harga minyak dunia.
"Perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Harga minyak mentah masih naik, namun pemerintah berkomitmen tidak akan menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi," ujar Ibrahim.
Transmisi ini, lanjut dia, yang akan dijaga pemerintah supaya daya beli masyarakat tetap terjaga. "Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung," kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....