IHSG Ditutup Menguat 2,07 Persen ke 7.458,50 Hari Ini
- 10 Apr 2026 16:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup menguat 2,07 persen ke level 7.458,50 pada perdagangan Jumat
- Indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.488 sebelum ditutup di zona hijau
- Sebanyak 485 saham naik, 181 saham turun, dan 153 saham stagnan
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada penutupan sesi perdagangan Jumat 10 April 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 7.458,50 atau naik 150,91 poin (2,07 persen) dibandingkan pembukaan hari ini.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat bergerak dan menyentuh posisi tertinggi pada 7.488. Sementara, level pembukaan hari ini tercatat di 7.346,49 sebelum akhirnya ditutup menguat.
Penguatan ini ditopang kenaikan harga sebanyak 485 saham harganya naik, 181 saham harganya turun dan 153 saham stagnan. Sementara, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp18,09 triliun.
Volume saham yang diperdagangkan mencapai 42,93 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 2,2 juta kali transaksi. Penguatan ini turut mencerminkan optimisme investor terhadap kondisi pasar saham domestik di tengah dinamika global.
Pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan penguatan IHSG ditopang sektor konsumer primer. Menurutnya, sektor tersebut melonjak 1,99 persen seiring pergeseran minat investor ke saham defensif berbasis konsumsi domestik.
“Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh sektor konsumer primer yang melonjak signifikan hingga 1,99 persen. Kenaikan ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor ke sektor yang lebih defensif dan berbasis konsumsi domestik, seperti ERAA dan RALS, di tengah ketidakpastian global,” kata Hendra di Jakarta, Jumat 10 April 2026.
Ia menjelaskan harga minyak dunia saat ini melonjak kembali hingga mencapai angka 98 dolar Amerika per barel. Kondisi tersebut, lanjutnya, juga dipicu oleh rapuhnya gencatan senjata serta eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di Lebanon.
Pengamat ini memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) akan menahan suku bunga. Selain itu, menurutnya pejabat bank sentral tersebut mulai mempertimbangkan kebijakan moneter ketat guna merespons risiko inflasi global yang meningkat.
“Kenaikan harga minyak ini menjadi faktor krusial karena berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi. Yang pada akhirnya mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral, terutama The Fed,” ucapnya.
Hendra melihat IHSG mampu bertahan di zona hijau saat bursa Asia berakhir negatif. Menurutnya, hal ini menandakan adanya kekuatan fundamental domestik yang masih sangat tangguh terhadap gejolak ekonomi luar negeri.
“Ini menunjukkan bahwa capital outflow masih menjadi risiko jangka pendek. Terutama jika ketidakpastian geopolitik terus berlanjut dan efekspektasi suku bunga global kembali naik,” ujar Hendra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....