IHSG Menguat ke Level 7.455,46 di Jeda Siang, Sektor Konsumer Jadi Penopang

  • 10 Apr 2026 12:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG tercatat menguat 2,02 persen ke level 7.455,46 pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat
  • Ketahanan pasar saham domestik dinilai kuat meski tekanan global meningkat akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah.
  • Sektor konsumer primer menjadi penopang utama, sementara investor mulai beralih ke saham defensif di tengah ketidakpastian global

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 10 April 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG menguat 2,02% atau 147,87 poin ke level 7.455,46.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Pendiri (Founder) Republik Investor Hendra Wardana menilai pasar saham domestik memiliki ketahanan tinggi. IHSG pada penutupan Kamis, 9 April 2026 menguat sebesar 0,39 persen meskipun dibayangi oleh sentimen negatif global.

Hendra menyebutkan ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ia menyatakan nilai transaksi sebesar Rp16,30 triliun menunjukkan aktivitas investor nasional masih berada pada kategori solid.

“IHSG berhasil rebound dan ditutup menguat 0,39 persen ke level 7.307. Meskipun sepanjang hari dibayangi sentimen negatif dari pasar global, khususnya terkait memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Hendra kepada RRI di Jakarta, Jumat, 10 April 2026.

Founder Republik Investor tersebut mengungkapkan bahwa sektor konsumer primer menjadi penopang utama pada penutupan perdagangan hari Kamis. Ia mencermati investor mulai mengalihkan minat mereka pada saham defensif yang berbasis konsumsi domestik guna menghadapi ketidakpastian.

Hendra menjelaskan sektor finansial mengalami penurunan sebesar 1,23 persen yang dipicu oleh koreksi sejumlah bank besar. Menurutnya, pasar mengkhawatirkan kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama akibat adanya lonjakan harga energi.

“Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh sektor konsumer primer yang melonjak signifikan hingga 1,99 persen. Kenaikan ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor ke sektor yang lebih defensif dan berbasis konsumsi domestik, seperti ERAA dan RALS, di tengah ketidakpastian global,” kata Hendra.

Hendra menjelaskan harga minyak dunia saat ini melonjak kembali hingga mencapai angka 98 dolar Amerika per barel. Lanjutnya, kondisi tersebut dipicu oleh rapuhnya gencatan senjata serta eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di Lebanon.

Pengamat Pasar Modal ini memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) akan menahan suku bunga. Ia menilai pejabat bank sentral tersebut mulai mempertimbangkan kebijakan moneter ketat guna merespons risiko inflasi global yang meningkat.

“Kenaikan harga minyak ini menjadi faktor krusial karena berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi. Yang pada akhirnya mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral, terutama The Fed,” ucap Hendra.

Ia menyarankan para investor untuk menerapkan strategi trading buy dengan manajemen risiko yang sangat disiplin. Tambahnya, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek karena kondisi geopolitik masih sangat tidak pasti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....