Resiliensi Pasar Domestik, IHSG Menguat ke Level 7.346 Pagi Ini

  • 10 Apr 2026 09:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 7.346, didorong ketahanan pasar domestik di tengah sentimen global.
  • Sektor konsumer primer menjadi penopang utama, sementara sektor finansial tertekan akibat kekhawatiran suku bunga tinggi.
  • Kenaikan harga minyak dan kebijakan The Federal Reserve berpotensi memengaruhi pergerakan pasar dan nilai tukar rupiah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Jumat, 10 April 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 7.346,49 atau naik 38,9 poin (0,53 persen) dibandingkan sebelumnya.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Pendiri (Founder) Republik Investor Hendra Wardana menilai pasar saham domestik memiliki ketahanan tinggi. IHSG pada penutupan Kamis, 9 April 2026 menguat sebesar 0,39 persen meskipun dibayangi oleh sentimen negatif global.

Hendra menyebutkan ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ia menyatakan nilai transaksi sebesar Rp16,30 triliun menunjukkan aktivitas investor nasional masih berada pada kategori solid.

“IHSG berhasil rebound dan ditutup menguat 0,39 persen ke level 7.307. Meskipun sepanjang hari dibayangi sentimen negatif dari pasar global, khususnya terkait memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Hendra kepada RRI di Jakarta, Jumat, 10 April 2026.

Founder Republik Investor tersebut mengungkapkan bahwa sektor konsumer primer menjadi penopang utama pada penutupan perdagangan hari Kamis. Ia mencermati investor mulai mengalihkan minat mereka pada saham defensif yang berbasis konsumsi domestik guna menghadapi ketidakpastian.

Hendra menjelaskan sektor finansial mengalami penurunan sebesar 1,23 persen yang dipicu oleh koreksi sejumlah bank besar. Menurutnya, pasar mengkhawatirkan kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama akibat adanya lonjakan harga energi.

“Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh sektor konsumer primer yang melonjak signifikan hingga 1,99 persen. Kenaikan ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor ke sektor yang lebih defensif dan berbasis konsumsi domestik, seperti ERAA dan RALS, di tengah ketidakpastian global,” kata Hendra.

Hendra menjelaskan harga minyak dunia saat ini melonjak kembali hingga mencapai angka 98 dolar Amerika per barel. Lanjutnya, kondisi tersebut dipicu oleh rapuhnya gencatan senjata serta eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di Lebanon.

Pengamat Pasar Modal ini memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) akan menahan suku bunga. Ia menilai pejabat bank sentral tersebut mulai mempertimbangkan kebijakan moneter ketat guna merespons risiko inflasi global yang meningkat.

“Kenaikan harga minyak ini menjadi faktor krusial karena berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi. Yang pada akhirnya mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral, terutama The Fed,” ucap Hendra.

Ia mencermati adanya pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp17.090 per dolar. Tambahnya, pelemahan nilai tukar domestik tersebut terjadi seiring adanya risiko aliran modal keluar dari pasar modal nasional.

Founder Republik Investor tersebut melihat IHSG mampu bertahan di zona hijau saat bursa Asia berakhir negatif. Menurutnya, hal ini menandakan adanya kekuatan fundamental domestik yang masih sangat tangguh terhadap gejolak ekonomi luar negeri.

“Ini menunjukkan bahwa capital outflow masih menjadi risiko jangka pendek. Terutama jika ketidakpastian geopolitik terus berlanjut dan efekspektasi suku bunga global kembali naik,” ujar Hendra.

Ia memproyeksikan pergerakan bursa saham akan cenderung fluktuatif mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia pada hari Jumat. Lanjutnya, secara teknikal indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan jika mampu bertahan di atas level psikologis 7.200-7.250.

Hendra merekomendasikan saham sektor energi dan media untuk dicermati oleh para pelaku pasar modal tanah air. Ia menilai saham seperti BRPT dan SCMA memiliki potensi penguatan harga di tengah rotasi sektor yang sangat dinamis.

“Secara teknikal, selama IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 7.200-7.250. Maka peluang untuk melanjutkan penguatan ke area resistance berikutnya tetap terbuka,” kata Hendra.

Ia menyarankan para investor untuk menerapkan strategi trading buy dengan manajemen risiko yang sangat disiplin. Tambahnya, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek karena kondisi geopolitik masih sangat tidak pasti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....