IHSG Dibuka Melemah ke Level 7153.114, Dinamika Global Jadi Perhatian

  • 02 Apr 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka melemah ke level 7.153,114 pada 2 April 2026 setelah sebelumnya sempat menguat.
  • Pergerakan pasar dipengaruhi sentimen global, terutama harapan deeskalasi konflik Timur Tengah dan dinamika bursa dunia.
  • IHSG berpotensi lanjut menguat ke 7.300-7.500 jika kondisi membaik, namun berisiko turun di bawah 7.000 jika konflik memanas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 2 April 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 7153.114 atau turun 31.338 poin (0.44 persen) dibandingkan sebelumnya.

Sehari sebelumnya IHSG bergerak di zona hijau dan ditutup naik 1,93 persen atau 136 poin ke level 7.184. Penguatan ini ditopang kenaikan harga 475 saham, sementara 209 saham terkoreksi, dan 135 saham lainnya stagnan.

Sebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan menguat pada Kamis, 2 April 2026. Ini melanjutkan tren pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya meski masih disertai aliran keluar modal asing.

"IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 2 April 2026. Menurut dia, di level support IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 7.025-7.130 dan level resistansi pada rentang 7.200-7.300.

Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) terangkat oleh harapan mundurnya Presiden AS, Donald Trump, dari perang melawan Iran. "Pada saat yang sama harga minyak dunia turun, yang mencerminkan ekspektasi berkurangnya risiko geopolitik," ujar Fanny.

Indeks Dow Jones naik 0,48 persen, S&P 500 menguat 0,72 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 1,16 persen. Harga minyak mentah WTI turun 1,24 persen menjadi USD100,12 per barel, dan Brent melemah 2,7 persen menjadi USD101,16 per barel.

Harapan akan meredanya perang juga mendorong penguatan bursa saham di Asia-Pasifik. "Dolar AS juga melemah seiring meredanya permintaan aset safe haven," ucap Fanny.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan penguatan indeks saham merupakan refleksi sentimen. Menurut dia lonjakan hingga level 7.184 pada perdagangan Rabu, 1 April 2026 didorong oleh harapan deeskalasi konflik global.

Hendra menjelaskan reli besar bursa Asia dan Wall Street memberikan efek domino bagi pasar domestik. Menurut dia, penguatan saat ini masih bersifat sementara karena belum ada kepastian penghentian konflik antaranegara.

“Kenaikan IHSG hingga menembus level 7.184 pada perdagangan 1 April 2026 mencerminkan membaiknya sentimen global jangka pendek. Kondisi ini dipicu harapan deeskalasi konflik Timur Tengah serta efek domino reli bursa Asia dan Wall Street,” ujarnya.

Hendra menyebut IHSG berpotensi melanjutkan penguatan secara berkelanjutan menuju area 7.300 hingga 7.500. Dia memproyeksikan kondisi tersebut dapat terealisasi jika ketegangan di wilayah Timur Tengah benar-benar mereda secara konsisten.

Hendra menilai penurunan harga minyak dunia akan meredakan tekanan inflasi global serta membuka ruang penurunan suku bunga. Ia memprediksi aliran dana asing akan mengalir deras ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia dalam skenario tersebut.

“Jika skenario positif terjadi, yakni deeskalasi konflik dan meredanya ketegangan di Timur Tengah. IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 7.300 hingga 7.500 dalam jangka menengah,” kata Hendra.

Hendra menjelaskan bahwa sektor perbankan, konsumer, properti, dan industri akan menjadi motor utama penggerak kenaikan pasar. Ia menilai sektor-sektor tersebut paling sensitif terhadap stabilitas ekonomi serta potensi penurunan tingkat suku bunga acuan.

Hendra memperingatkan risiko koreksi tajam ke bawah level 7.000 jika harapan perdamaian dunia tidak kunjung terkonfirmasi. Menurut dia, lonjakan harga energi serta pelemahan rupiah akan menjadi kombinasi tekanan berat bagi bursa saham domestik.

“Namun sebaliknya, jika harapan deeskalasi tidak terkonfirmasi atau konflik kembali memanas. IHSG berpotensi terkoreksi dan bahkan turun ke bawah level 7.000 karena pasar masuk fase risk-off,” ucap Hendra.

Hendra menyarankan investor untuk segera melakukan rotasi portofolio dengan mengurangi kepemilikan pada saham berbasis komoditas. Menurut dia, harga batu bara dan minyak biasanya mengalami normalisasi saat premi risiko geopolitik menurun secara global.

Hendra merekomendasikan saham perbankan, infrastruktur, dan properti sebagai pilihan utama karena biaya dana berpotensi turun signifikan. Dia meyakini aktivitas ekonomi domestik akan meningkat saat kondisi dunia mulai stabil dalam beberapa waktu ke depan.

“Karena itu, pada fase rebound seperti saat ini, pasar dapat dimanfaatkan untuk melakukan rotasi portofolio. Investor dapat secara bertahap mengurangi saham komoditas dan mulai mengakumulasi saham yang sensitif terhadap penurunan suku bunga serta pemulihan ekonomi domestik,” kata Hendra.

Hendra menyebut saham MBMA trading buy dapat dicermati dengan target 800. Ia juga menyertakan SRTG dalam daftar beli spekulatif dengan target harga 1.915.

Hendra menjelaskan strategi beli untuk saham BUMI dan NETV. Ia merinci target harga untuk kedua emiten tersebut masing-masing berada pada level 280 serta level 100.

Hendra menekankan bahwa fase pemulihan saat ini harus menjadi pengingat bagi pelaku pasar untuk tetap waspada. Ia mengimbau seluruh investor menjaga manajemen risiko karena pergerakan indeks masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....