IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan meski Dibayangi Aksi "Net Sell" Investor Asing

  • 02 Apr 2026 09:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan akan menguat pada hari ini, Kamis 2 Maret 2026.
  • Di level "support", IHSG diperkirakan bergerak di level "support" pada rentang 7.025-7.130 dan level resistansi pada rentang 7.200-7.300.
  • Sentimen pasar dipengaruhi pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang akan mundur dari perangnya di Iran sehingga harga minyak dunia turun, mencerminkan ekspektasi berkurangnya risiko geopolitik

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan menguat pada Kamis 2 April 2026. Ini melanjutkan tren pada penutupan perdagangan sehari meski masih disertai aliran keluar modal asing.

"IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 2 April 2026. Menurut dia, di level support IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 7.025-7.130 dan level resistansi pada rentang 7.200-7.300.

Pada Rabu 1 Maret 2026, IHSG ditutup naik 1,93 persen tetapi masih disertai net sell asing Rp163 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, BBRI, BBNI, ANTM, dan ITMG.

Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) terangkat oleh harapan mundurnya Presiden AS, Donald Trump, dari perang melawan Iran. "Pada saat yang sama harga minyak dunia turun, yang mencerminkan ekspektasi berkurangnya risiko geopolitik," ujar Fanny.

Indeks Dow Jones naik 0,48 persen, S&P 500 menguat 0,72 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 1,16 persen. Harga minyak mentah WTI turun 1,24 persen menjadi USD100,12 per barel, dan Brent melemah 2,7 persen menjadi USD101,16 per barel.

Harapan akan meredanya perang juga mendorong penguatan bursa saham di Asia-Pasifik. "Dolar AS juga melemah seiring meredanya permintaan aset safe haven," ucap Fanny.

Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak hingga 8,4 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang melesat 5,2 persen. "Penguatan signifikan di Korea Selatan, didorong data ekonomi yang melampaui ekspektasi," kata Fanny.

Ekspor Korea Selatan tercatat tumbuh 48,3 persen secara tahunan pada Maret 2026, jauh di atas perkiraan pasar. Selain itu, tambah dia, aktivitas manufaktur juga mencatat ekspansi tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Meningkatnya aktivitas manufaktur Korea Selatan juga didorong permintaan semikonduktor dan peluncuran produk baru. Hal serupa juga terjadi di negara tetangganya di Asia Timur yaitu Jepang.

"Survei menunjukkan sentimen bisnis manufaktur membaik pada triwulan I 2026,” kata Fanny. Menurut dia, ini menandakan ketidakpastian global belum berdampak signifikan terhadap dunia usaha.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....