Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp17.041 per Dolar AS

  • 31 Mar 2026 20:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini menjadi Rp17.041 per dolar AS
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak
  • Penutupan Selat Hormuz telah mendorong harga minyak Brent berjangka naik 59 persen di bulan Maret

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah turun 0,23 persen atau 39 poin menjadi Rp17.041 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak. “Penutupan Selat Hormuz telah mendorong harga minyak Brent berjangka naik 59 persen di bulan Maret,” kata Ibrahim, Selasa, 31 Maret 2026.

Sementara minyak WTI naik 58 persen di bulan Maret ini dan merupakan yang tertinggi sejak Mei 2020. Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp pada Selasa mengabarkan, kapal tanker minyak mereka Al Salmi mengalami serangan di Pelabuhan Dubai.

Kapal tersebut mempu membawa minyak hingga 2 juta barel. Kantor berita Kuwait, KUNA menyebutkan, para pejabat di negara itu memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut.

Kuwait menduga serangan tersebut dilakukan oleh Iran. Di sisi lain, ada kekhawatiran atas keikutsertaan kelompokj Houthi di Yaman dalam konflik AS-Iran.

“Kemungkinan akan ada gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Titik tersebut merupakan rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1-5,2 persen.

“Penopang utama pertumbuha utamanya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun terdapat hambatan dari perlambatan investasi dan net-ekspor,” ucap Ibrahim.

Perlambatan disebabkan oleh memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah. Perang membuat harga energi tertekan, termasuk pasar keuangan, dan nilai tukar.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I juga ditopang faktor musiman Ramadan, Idulfitri dan tunjangan hari raya (THR). Bantuan sosial, diskon transportasi, dan pergerakan mudik mendorong belanja rumah tangga.

“Jasa transportasi, perdagangan, makanan minuman, hingga kegiatan ekonomi di daerah ikut bergerak di momen Idulfitri,” ujar Ibrahim. Indeks keyakinan konsumen pada Februari 2026 juga masih tinggi di level 125,2.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....