IHSG Dibuka "Rebound" dan Berpotensi Terus Menguat setelah Pelemahan Kemarin

  • 31 Mar 2026 09:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada pembukaan perdagangan hari ini di level 7.122,99.
  • "IHSG berpotensi menguat terbatas," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
  • Eskalasi perang antara AS dan Iran dan kenaikan harga minyak dunia masih menjadi perhatian para investor di pasar modal.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat 0,28 persen pada pembukaan perdagangan Selasa 31 Maret 2026. Menurut pantauan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di zona hijau pada level 7.122,99.

“IHSG berpotensi menguat terbatas,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Selasa, 31 Maret 2026. Menurut dia, IHSG akan bergerak di kisaran 6.900-7.000 untuk level support dan 7.150-7.280 untuk level resistansi.

Pada Senin 30 Maret 2026, IHSG ditutup di level 7.091,67 atau turun 0,08 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Pelemahan ini disertai arus keluar modal asing, yang ditandai aksi jual saham oleh investor asing.

BNI Sekuritas melaporkan net sell (jual bersih) saham oleh investor asing tercatat sebesar Rp678 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, BBCA, BMRI, CUAN dan TLKM.

Bursa saham global mayoritas juga melemah pada Senin 30 Maret 2026. Pemicunya adalah eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta kenaikan harga minyak dunia.

Di AS, indeks bursa saham utama mayoritas turun juga disebabkan terkoreksinya saham-saham teknologi. Indeks S&P 500 turun 0,39 persen, Nasdaq Composite melemah 0,73 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,11 persen.

Bursa saham di kawasan Asia Pasifik kompak melemah pada hari yang sama. Indeks saham Nikkei 225 Jepang, misalnya, anjlok 2,8 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,81 persen.

Sementara itu, Indeks CSI 300 Tiongkok melemah 0,24 persen dan ASX 200 Australia turun 0,65 persen. Begitu pula dengan pasar saham Korea Selatan, Kospi, yang turun hingga 2,97 persen.

"Tekanan di bursa saham Asia Pasifik disebabkan kenaikan harga energi setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah,” ujar Fanny. Selain itu, ancaman gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, juga menambah tekanan tesebut.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate sudah menembus USD 102,88 per barel. Sedangkan harga minyak Brent telah mencapai USD112,78 per barel.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan ekspektasi inflasi masih relatif terkendali dalam jangka panjang meski harga energi meningkat. Sehingga, bank sentral AS itu belum mengambil langkah kebijakan dalam waktu dekat.

Menurut Fanny, masih ada faktor lain yang membuat The Fed bersikap demikian. “Di antaranya dampak ekonomi akibat lonjakan harga minyak dan konflik geopolitik yang masih belum pasti," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....