Pasar Saham Global Diguncang Krisis Minyak dan Geopolitik

  • 27 Mar 2026 10:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bursa saham global mulai gonjang-ganjing karena tekanan konflik geopolitik dan harga minyak
  • Bursa utama di Amerika Serikat dan mayoritas bursa saham di Asia Pasifik, turun tajam dalam perdagangan saham Kamis, 26 Maret 2026.
  • Investor global mencermati perkembangan konflik AS-Israel dengan Iran yang masih memanas dan memicu kenaikan harga minyak

RRI.CO.ID, Jakarta - RRI.CO.ID, Jakarta- Bursa saham global mulai gonjang-ganjing karena tekanan konflik geopolitik dan harga minyak. Bursa utama di Amerika Serikat dan mayoritas bursa saham di Asia Pasifik, turun tajam dalam perdagangan saham Kamis kemarin.

"Indeks saham di Wall Street, AS ditutup melemah, dipimpin oleh indeks Nasdaq yang turun lebih dari 2 persen. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Jumat, 27 Maret 2026.

Investor global mencermati perkembangan konflik AS-Israel dengan Iran yang masih memanas. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,01 persen dan S&P 500 merosot 1,74 persen.

"Sentimen pasar tertekan oleh kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan. Utamanya pasokan dari kawasan Timur Tengah karena pembatasan di Selat Hormuz," ucap Fanny.

Harga minyak mentah AS sudah naik 4,6 persen, sementara minyak Brent melonjak 5,7 persen. Di sisi lain emas yang sempat menjadi primadona investor, harganya turun lebih dari 2 persen.

"Penurunan harga emas menyebabkan saham perusahaan tambang emas yang tercatat di AS justru turun lebih dari 4 persen," ujar Fanny. Di kawasan Asia Pasifik, bursa saham juga kompak mengalami penurunan.

Penurunan, kata Fanny, dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Iran menegaskan tidak akan melakukan negosiasi langsung dengan AS. "Iran tengah meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang, hal itu tidak berarti adanya pembicaraan langsung antara kedua negara," ujar Fanny mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Menlu Iran juga menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi hanya melalui perantara. “Pertukaran pesan antara kedua negara melalui mediator tidak berarti negosiasi dengan AS,” kata Abbas menegaskan.

Sebelumnya, media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa negara tersebut akan menolak tawaran gencatan senjata dari AS. Iran sudah menyiapkan syaratnya sendiri untuk mengakhiri konflik.

Pada Kamis kemarin, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,27 persen, Kospi Korea Selatan menurun 3,22 persen. Indeks saham S&P/ASX 200 Australia melemah 0,10 persen dan Hang Seng Hong Kong turun 1,89 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....