Konflik AS-Iran Masih Tegang, Rupiah Berhasil Menguat 7 Poin
- 26 Mar 2026 20:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini, sebesar 0,04 persen atau 7 poin menjadi Rp16.904 per dolar AS
- Rupiah menguat tipis di tengah sikap kehati-hatian pasar yang tinggi terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah dan pembatasan di Selat Hormuz
- Dari dalam negeri, pemerintah menegaskan belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi akibat kenaikan harga minyak dunia
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah naik 0,04 persen atau 7 poin menjadi Rp16.904 per dolar AS.
Rupiah menguat tipis di tengah sikap kehati-hatian pasar yang tinggi terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. AS sudah mengirimkan proposal perdamaian, namun tidak mendapat tanggapan dari Iran.
Iran bahkan menolak negosiasi langsung dengan AS yang membuat ketidakpastian pasar kembali meningkat. “Situasi itu membuat pelaku pasar waspada, sementara pasar minyak menjadi lesu,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurutnya, harga minyak masih akan berfluktuasi jika sepanjang lalu lintas di Selat Hormuz belum lancar. Gangguan pasokan akan memicu lonjakan harga minyak lebih lanjut.
Harga minyak Brent sudah mencapai USD119 per barel. Sementara para pejabat AS terus mengancam akan melakukan tindakan yang lebih keras terhadap Iran.
Dari dalam negeri, pemerintah menegaskan belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi karena kenaikan harga minyak. “APBN Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak mentah saat ini,” ujar Ibrahim.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa fluktuasi harga minyak belum membahayakan postur anggaran. “Karenanya wacana pembatasan kuota maupun kenaikan harga BBM subsidi belum masuk dalam radar kebijakan pemerintah,” ucap Ibrahim.
Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) masih berada di level USD74 per barel. Harganya lebih tinggi dari asumsi makro dalam APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
Selisih harga USD4 per barel, menurut Menkeu Purbaya, masih bisa dikelola . Perhitungan dalam APBN berdasarkan pada harga rata-rata sepanjang tahun, bukan lonjakan harga sesaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....