Rupiah Bergerak Menguat seiring Turunnya Harga Minyak

  • 11 Mar 2026 10:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 11 Maret 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka naik tipis 0,03 persen atau 5 poin menjadi Rp16.858 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah naik cukup signifikan 0,51 persen atau 86 poin menjadi Rp16.863 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas," kata analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Menurut dia, penguatan rupiah didukung oleh penurunan harga minyak yang cukup besar. "Namun, perang AS-Israel versus Iran yang masih intens akan terus membebani rupiah," ucapnya.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS terpantau di level 98,82 melemah dibandingkan Senin 9 Maret 2026.

Sementara itu, Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menyatakan penguatan rupiah tidak lepas dari intervensi yang dilakukan Bank Indonesia. "Rupiah terapresiasi di tengah dugaan intervensi agresif BI untuk menahan rupiah agar tidak tembus ke level psikologis Rp17.000," kata Ekonom Mirae, Rully Arya Wisnubroto.

Menurut dia, untuk sementara sentimen global juga membaik seiring koreksi harga minyak dunia. Harga minyak Brent, misalnya, kembali bergerak di kisaran USD90 per barel.

"Namun, perbaikan ini masih rapuh dan sangat bergantung pada kelanjutan de-eskalasi di Timur Tengah,” ucap Rully. Selain itu juga sangat bergantung pada efektivitas langkah stabilisasi yang dilakukan BI.

Isyarat kehati-hatian juga ditunjukkan dengan aliran keluar modal asing. Pada Selasa 1 Maret 2026 terjadi aliran keluar modal asing cukup besar senilai Rp1,9 triliun di pasar reguler.

Hal ini tentunya akan menambah beban bagi rupiah. “Diharapkan bakal ada sentimen positif lagi yang dapat mendorong penguatan rupiah lebih lanjut,” kata Rully.

Rekomendasi Berita